Yang Serius Jangan Dibecandain!

selebrasi timnas U22 usai menjuarai AFF Cup semalam. sumber : pssi.org

Semalam Timnas Indonesia U22 berhasil menjuarai AFF Cup. Ajang rutin yang digelar federasi sepak bola di tingkatan Asean, untuk adu kemampuan negara anggotanya. Di usia muda, kita unggul, karena untuk senior saya belum pernah lihat mereka angkat piala. Indra Sjafri kembali menunjukan tajinya sebagai pelatih mumpuni, sekaligus menebus kegagalan Timnas U-19 dalam ajang serupa pada tahun lalu.

Saat itu saya ingat betul, Egi Maulana Vikri, sampai rela main usai terbang berjam-jam dari Polandia, padahal waktu recovery yang dibutuhkan masih kurang dari ideal. Kemenangan tahun ini juga mungkin sebagai penebus kegagalan timnas usia yang sama kala ditangani Luis Milla. Saat itu, Indonesia juga gagal juara. Lebih spesial lagi, Marinus dan kawan-kawan jadi jawara di negara lain. Begitu kurang lebih yang saya tahu, soal kemenangan timnas malam tadi.

Tapi cerita menarik selanjutnya bukanlah tentang kemenangan timnas itu sendiri. Tapi soal cerita yang mengiringinya. Apalagi ini di tahun politik, dimana orang-orang gegap gempita meramaikan demokrasi. Hanya ditinggal tidur semalam, di jagat maya sudah ramai soal kemenangan Timnas, tapi berbau politik. Ada yang mengatakan juara hanya satu, mengarah pada nomor urut salah satu Paslon, ada yang mengatakan Indonesia menang karena golnya dua, sedangkan Thailand golnya satu. Juga mengarah pada nomor urut salah satu Paslon.

Kemudian saya buka lagi jagat maya lainnya. Ada yang membuat meme, selebrasi salah satu pemain timnas yang jarinya membentuk simbol dukungan untuk salah satu capres. Tahun ini politik memang hanya diramaikan dengan perang tagar, perang meme, dan perang hoaks, bukan perang gagasan. Begitu yang saya lihat di timeline. Belum saja Menpora menjanjikan bonus dan berkata bonus itu dari Presiden, maka pilih lagi presiden yang sama. Dan itu bisa saja terjadi, tinggal menunggu waktu saja.

Seperti yang pernah saya tulis di beberapa kesempatan, sepak bola memang empuk untuk jadi sasaran politisasi. Karena jumlah penikmatnya yang sangat banyak dan dari semua golongan. Saya jadi ingat ketika ada klaim oknum Bobotoh, salah satu pendukung Persib Bandung, mendukung salah satu calon presiden. Bahkan menamakan diri mereka The Viking agar mirip dengan kelompok pendukung terbesar Persib Bandung, Viking Persib Club. Saya hanya tertawa geli mendengar berita kala itu, lebih dari 10 tahun saya ikuti sepak bola Bandung, baru kali ini saya mendengar ada suporter Bandung bernama The Viking.

Itulah sepak bola, punya daya tarik yang sangat kuat. Tapi bukan itu sebenarnya poin yang ingin saya sampaikan. Karena politisasi bola sudah sering saya tulis, dan juga sudah sering terjadi di negeri ini. Saya ingin mengutarakan, ucapkanlah apa yang seharusnya diucapkan. Apa yang seharusnya tidak diucapkan, jangan diucapkan. Sebab kita kerap salah menyikapi hal yang diucapkan. Kita selalu menyeriusi hal yang bercanda, dan membercandai hal yang serius. Manusia punya kecenderungan itu.

Banyak contohnya, bagaimana orang-orang mengeluarkan ucapan kotor karena membuat meme yang lucu. Juga ada orang yang tertawa pada sesuatu yang serius, misalkan temannya yang jatuh tapi ditertawakan. Pagi ini saya baca ada seorang sopir taksi online yang dihenti aktifkan karena menurunkan penumpang yang berbeda pilihan presiden. Sopir taksi itu mengorbankan kewajibannya mencari nafkah hanya karena politik yang notabene adalah permainan. Dalam satu kasus yang sama, si sopir taksi sekaligus menseriusi politik dan menganggap remeh kewajiban mencari nafkah. Mungkin bisa saja yang bersangkutan berkelit, 17 April nanti dapat menentukan kita ke depan, dan rejeki Tuhan yang mengatur. Tapi bisa jadi dia lupa, Tuhan tidak memberi rejeki secara cuma-cuma.

Begitulah kita yang selalu menseriusi yang bercanda dan membercandai yang serius. Kaitannya dengan Timnas yang malam tadi juara, pun seperti itu. Timnas juara itu hal serius untuk menunjukan eksistensi bangsa di mata dunia, tapi jika hanya ditarik-tarik ke politik justru menjadi tak serius, karena hanya adu klaim saja. Misalkan perjuangan para Garuda Muda kemarin disangkut pautkan dengan politik, pasti akan ada yang marah. Baik dari kubu sebelah ataupun dari pecinta bola yang antipati terhadap politik. Jadilah masyarakat semakin terbelah. Padahal sejatinya sepak bola adalah mempersatukan. Kalau saya pribadi sih, hanya tertawa saja melihat tingkah para https://catatanmaulafikri.com/blog/makhluk-baru-bernama-bigoticus-politicus-sapiensis/

Saya tahu mereka bercanda dan saya tahu para pemain serius ingin juara. Makanya saya tidak ikut-ikut mereka yang campur adukan itu. Toh tulisan ini juga sekedar candaan, bukan untuk diseriusi. Mari kita tertawa, hahaha …..

Imam Maula Fikri

Please follow and like us:
0

Tinggalkan Balasan