Urbanisasi Ruralisme

Orang desa bekerja setiap hari untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari orang kota. Tapi sayang, orang kota lupa diri atau tidak tahu diri, sehingga mereka selalu menganggap desa itu kampungan dan tertinggal. Sehingga kata desa selalu berkonotasi buruk.

Entah sejak kapan mulanya istilah modern muncul. Tapi dari kata itu, klasterisasi manusia muncul. Kota kebalikannya desa, maju kebalikannya tertinggal, modern kebalikannya udik. Masing-masing istilah menuju pada konotasi dan kelas pemilik kata.

Setiap kata awal, dari apa yang disebutkan di atas, kemudian dianggap lebih superior. Orang kota dianggap lebih baik dari orang desa. Karena konotasi orang desa atau dalam istilah lain disebut kampungan itu berarti buruk.

Orang kota dan perkotaan dianggap maju dan paling dekat dengan kemajuan. Sementara desa dan orang desa jauh dari kemajuan jika tidak ingin dikatakan tertinggal. Orang kota menjadi kelas satu, orang desa menjadi kelas dua.

Masyarakat kota kemudian disebut dengan urban. Masyarakat yang dianggap lebih superior. Orang kota merasa lebih maju dan selalu dielu-elukan oleh orang desa. Entah siapa yang memulai tradisi mengelu-elukan itu.

Semakin kota seseorang, maka semakin maju dan baik hidup orang itu. Begitu asumsi yang terbangun. Makanya, banyak melakukan urbanisasi. Padahal tidak semua orang kota berkehidupan maju, setidaknya masih ada yang memiliki cara berfikir yang primitif.

Berpindah dari desa atau kampung ke kota. Demi sebuah kata yang dianggap dewa, kemajuan atau modern dan mapan. Sayangnya, mereka yang melakukan urbanisasi bukan hanya berpindah domisili, tapi juga mengihlangkan diri, merubah identitas. Satu tujuannya, biar tidak kampungan.

Menghilangkan identitas, berarti mereka orang yang lupa diri. Orang yang tidak tahu diri. Padahal desa atau kampung tidak seperti yang mereka pikirkan. Desa itu bukan wilayah tertinggal dan jauh dari kemajuan. Karena dari desa semua berasal.

Nasi, garam, gula, teh, kopi, tembakau, daging ayam, daging sapi, ikan, sayuran serta semua makanan lainnya bersumber dari desa. Orang desa bekerja setiap hari untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari orang kota. Tapi sayang, orang kota lupa diri atau tidak tahu diri, sehingga mereka selalu menganggap desa itu kampungan dan tertinggal. Sehingga kata desa selalu berkonotasi buruk.

Tapi orang desa tidak mempermasalahkan kelupaan mereka. Bahkan orang-orang desa tetap saja menyanjung orang kota. Bahkan ketika orang kota itu PULANG KAMPUNG. Itulah ajaran desa, ruralisme. Tetap merangkul mereka yang telah melupakan kedesaannya.

Ajaran yang pergi terbawa isu urbanisasi. Seharusnya orang desa yang berpindah ke kota bukan hanya membawa ambisinya saja, tapi juga pekertinya. Sehingga terjadi URBANISASI RURALISME. Maka kota akan jauh dari gambaran keserakahan.

Imam Maula Fikri

Tinggalkan Balasan