The New Normal, Mencari Anomali Selama Pandemi

Yang jelas, di masa pandemi ini semua berubah. Istilahnya The New Normal. Biasanya berbayar, kini cuma-cuma tanpa biaya.

Covid19, dipahami sebagai satu pandemi. Bagi yang lainnya, ini perang ekonomi. Keduanya sama-sama benar, dengan sudut pandang masing-masing. Ia membahayakan kesehatan, juga membahayakan ekonomi.

Tidak bisa dipungkiri, pandemi terjadi ketika dua negeri adikuasa saling adu kekuatan ekonomi. Benar juga pandangan yang mengatakan adanya bisnis vaksin atas pandemi ini. Ya, semua bisa terjadi.

Sama halnya dengan maraknya webminar yang diadakan secara cuma-cuma. Menggunakan aplikasi teleconference, atau platform digital lain. Dalam hal ini, banyak usaha rintisan di bidang telekomunikasi digital sedang diperbincangkan. Juga usaha rintisan digital di bidang kesehatan.

Hal yang tidak pernah terbayang sebelumnya ketika semuanya berjalan normal. Seolah pandemi ini kesempatan, atau jangan-jangan memang kesengajaan yang diciptakan. Kembali lagi soal webminar yang diadakan cuma-cuma. Skema seminar baru, yang menggema karena majunya teknologi informasi.

Webminar sebenarnya bukan hal baru. Setidaknya, sebelum masa pandemi pun sudah banyak berlangsung. Tapi sejauh pengetahuan saya, rata-rata berbayar. Sama dengan skema-skema seminar yang sudah lama berjalan. Tidak cuma-cuma, karena ilmu itu mahal.

Tapi ketika pandemi, ilmu mendadak murah. ‘Dijual’ cuma-cuma, peminatnya pun banyak meski kuota dibatasi. Tapi tidak apa-apa, hitung-hitung donasi yang diberikan dalam bentuk non materil. Namun kemudian, bisakah skema ini terus berjalan? ilmu yang murah, tanpa perlu biaya tambahan!

Jika berbicara pada substansi ilmunya, bukankah tidak ada beda antara ilmu berbayar dengan ilmu tanpa biaya? sama-sama berbagi manfaat. Mungkin bedanya, jika tanpa biaya, si ‘pemilik’ ilmu harus lebih ikhlas ketimbang di masa normal. Ketika ilmu dibayar mahal, meski hanya sebagian ilmu saja.

Lalu ada hal yang lebih mengerucut, yaitu kepentingan organisasi profesi, serikat pekerja, atau hal serupa lainnya. Ketika waktu normal, para anggota atau pekerja dipaksa mencari tambahan ilmu dari seminar berbayar dengan iming-iming sertifikat berbobot.

Bobot itu menjadi syarat perpanjangan keanggotaan, yang dikaitkan dengan keabsahan instansi pemberi kerja. Di masa pandemi ini, bobot itu menjadi murah meriah, bahkan diobral, karena seminarnya pun tak berbayar. kenapa harus menunggu pandemi?

Apakah tidak bisa, di masa biasa, bobot itu tidak memberatkan? Lalu, apakah keahlian cukup ditunjukan dengan sertifikat keanggotaan? jika iya, untuk apa lama-lama belajar, jika ijazah dianggap tak berguna tanpa adanya legalitas keanggotaan organisasi keprofesian?

Jadi untuk siapa dan untuk apa adanya itu semua? kemajuan ilmu pengetahuan dan keprofesian? atau sekedar gaya-gayan biar lebih terlihat hebat? entahlah!

Yang jelas, di masa pandemi ini semua berubah. Istilahnya The New Normal. Biasanya berbayar, kini cuma-cuma tanpa biaya.

Imam Maula Fikri

Tinggalkan Balasan