Surat Untuk Senior Kami di Senayan dan Istana

Kami tidak mau menjatuhkan abang-abang dari kursi itu, kami cuma mau mengingatkan, serendah itukah nilai sebuah perjuangan?

Teruntuk abang-abang kami, aktivis reformasi yang kini duduk manis di kursi wakil rakyat dan di dalam Istana Kepresidenan.

Abang, kami tahu abang-abang adalah orang-orang hebat. Buktinya abang bisa menumbangkan rezim Orde Baru di bawah Soeharto. Rezim yang dianggap otoriter dan berkuasa 35 tahun lamanya.

Kami tahu abang-abang itu orang hebat. Berhadapan dengan moncong senjata. Dihujani peluru tajam saat aksi 98 dan berhadapan langsung dengan militer.

Tidak seperti kami yang hanya berhadapan dengan polisi, pentungan, dan water canon. Tapi kami juga tahu, setelah itu banyak dari abang-abang ini merapat ke kekuasaan setelah dibukanya pintu demokrasi oleh mendiang Pak Habibie.

Kami mahasiswa yang belum mampu seperti itu, jadi teringat soal cerita Gie. Katanya ia ditinggal kawan-kawan seperjuangannya setelah Soekarno tidak lagi menjadi presiden dan orde lama digantikan orde baru.

Katanya kawan-kawan seperjuangan Gie banyak yang mendapat kursi di awal orde baru. Sampai Gie marah dan mwngirimkan lipstik ke gedung wakil rakyat. Benar seperti itu abang?

Apakah abang-abang yang saat ini duduk di kursi empuk wakil rakyat, dan dekat kekuasaan mengalami sindrom yang sama? Nyaman setelah menggulingkan kekuasaan lalu mendapatkan kekuasaan itu.

Lupa bahwa rakyat memiliki hak penuh atas negerinya. Lupa bahwa banyak kasus masa lalu yang belum terselesaikan, bahkan 20 tahun setelahnya, atau lebih dari itu. Padahal abang-abang saat ini punya kekuasaan itu.

Padahal mereka yang gugur ketika akhir masa orde baru adalah teman-teman mahasiswa abang. Bahkan mungkin satu almamater. Apakah abang lupa semua itu?

Lalu dengan gagahnya, abang-abang ini mengatai kami, mahasiswa saat ini, sebagai mahasiswa yang tidak faham reformasi dan persoalan bangsa lainnya. Kemudian membandingkan kami dengan tindakan abang, yang dianggap heroik oleh rakyat waktu itu.

Memang kami tak sehebat itu, tapi jangan kemudian menganggap kami tidak lebih baik dari abang-abang. Kami hanya ingin mengingatkan, ada tujuan yang belum tercapai dari reformasi yang abang buka.

Sebelum reformasi itu sempurna, abang-abang malah terlanjur terlena dengan uang rakyat dan kekusaan. Kami tidak mau menjatuhkan abang-abang dari kursi itu, kami cuma mau mengingatkan, serendah itukah nilai sebuah perjuangan?

Imam Maula Fikri

Please follow and like us:
0

Tinggalkan Balasan