Surat Untuk Mentri Pendidikan Indonesia

Ah, sebenarnya masih banyak permasalahan pendidikan kita, Mas. Tapi saya akan titip satu saja lagi. Bisakah Mas Mentri membisikan sesuatu ke Pak Presiden perihal pendidikan kita? Saya harap bisa. Ini pesannya, Mas.

Untuk Mas Mentri Nadiem Anwar Makarim.

Mas mentri, belakangan ini berita tentang langkah anda banyak berseliweran. Di media sosial, ataupun di jagad maya secara keseluruhan. Terutama tentang evaluasi akhir pembelajaran siswa kita. Tentang dirubahnya format UN, dari sistem penilaian saat ini ke sistem assesmen kompetensi.

Entah seperti apa sistem asesmen yang Mas Mentri maksudkan. Namun yang jelas, persoalan pendidikan kita tidak hanya berkutat disana. Mungkin dengan sistem asesmen baru yang Mas Mentri wacanakan, peringkat PISA kita meningkat. Harapan itu masih ada.

Ya, peringkat PISA kita menurun. Bahkan sejak 2000, hasil PISA Indonesia selalu jauh dari rata-rata. Maka menjadi lumrah jika Mas Mentri ingin mengerek naik peringkat itu. Memalukan memang, kita selalu ada di tingkat bawah perihal literasi, matematika, dan sains.

Tapi sekali lagi, masalah pendidikan kita bukan hanya itu, Mas. Termasuk kurikulum yang merepotkan, dan sempat diwacanakan untuk disederhanakan oleh Mas Mentri. Untuk hal itu pun, insan pendidikan Indonesia berharap banyak.

Selain itu, ada satu permasalahan pendidikan, yang saya harap Mas Mentri sudah tahu dan sudah memikirkan solusinya. Perihal pendidikan kita yang sudah menjadi industri. Ya, pendidikan di negara kita tidak sepenuhnya untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa. Itulah sebabnya, seperti yang pernah Mas Mentri pidatokan, pendidik kita selalu terjebak dalam rutinitas yang sama.

Untuk hal itu, beranikah Mas Mentri menertibkan industri ini? Atau lebih tepatnya menertibkan instansi pendidikan yang sudah tidak lagi berorientasi pada tujuan pendidikan. Baik dari tingkat usia dini, hingga tingkat perguruan tinggi.

Sudah bukan rahasia, jika dari proses penerimaan, proses pembelajaraan, hingga proses evaluasi, instansi banyak mencari keuntungan finansial dari itu semua. Juga sudah bukan rahasia, banyak yang menjadikan lembaga pendidikan, baik formal ataupun non formal, sebagai ladang keuntungan finansial.

Dari kondisi itu, tidak sedikit oknum insan pendidikan berbuat nakal untuk mengejar tujuan awal. Tantangan selanjutnya, mampukah Mas Mentri menertibkan instansi pendidikan semacam itu? Sekaligus menertibkan pejabat-pejabat pendidikan yang suka bermain mata di bawah meja. Semoga Mas Mentri mampu.

Semoga hal-hal itu sudah terpikirkan oleh Mas Mentri. Kemudian Mas Mentri harus melakukan pemerataan instansi pendidikan di seluruh Indonesia. Sehingga tidak perlu lagi ada persaingan bisnis antar lembaga pendidikan. Berlomba memperbanyak siswa agar roda industri jalan, dan bantuan dari pemerintah tidak berkurang.

Bukan apa-apa, Mas. Jumlah siswa yang banyak terkadang tidak berimbas apa-apa pada pendidiknya. Selain itu, menjadikan rasio perbandingan jumlah pendidik dan yang dididik menjadi tidak rasional, terkadang. Dalam satu kelas, ada saja yang jumlah muridnya hingga 30 siswa, rata-rata 20an siswa.

Saya tidak pernah membayangkan bagaimana beban pendidik kita yang harus mengawasi siswa sebanyak itu. Mengawasi dan mengenal kemampuan mereka, bahkan tidak hanya kemampuan kognitif. Tapi juga dituntut kemampuan kolaborasinya, sosialnya, sikapnya, literasinya, dan aspek non kognitif lainnya, Bahkan terkadang soal masalah mereka di rumah. Seolah para pendidik kita tidak memiliki beban sendiri dalam hidupnya.

Silahkan Mas Mentri cek ke lapangan, apakah terjadi kesulitan pendidik dalam mendidik anak karena kondisi di atas. Saya pernah membayangkan, bagaimana seandainya di Indonesia setiap satu kelas hanya berisi maksimal 10 orang siswa. Sepertinya guru tidak akan terlalu susah mengeksplorasi kemampuan anak-anak Indonesia, yang sejatinya luar biasa. Tapi apakah itu mungkin?

Ah, sebenarnya masih banyak permasalahan pendidikan kita, Mas. Tapi saya akan titip satu saja lagi. Bisakah Mas Mentri membisikan sesuatu ke Pak Presiden perihal pendidikan kita? Saya harap bisa. Ini pesannya, Mas.

“Pak, kapan anggaran pendidikan kita dinaikan (lagi)?”

Imam Maula Fikri

Tinggalkan Balasan