Selalu Ada Hikmah di Balik Musibah

Karena dalam sebulan ini, kita benar-benar dipertunjukan oleh Tuhan, sifat asli orang-orang di sekitar kita. Setidaknya selalu ada hikmah dibalik musibah!

Pandemi Corona telah genap satu bulan melanda Indonesia sejak resmi diumumkannya pada 2 maret lalu. Segala sesuatu terkait kehidupan kita pun berubah, khususnya di Jakarta sebagai epicentrum penyebaran.

Banyak pula orang yang cemas bahkan panik ketika menghadapi wabah ini. Namun, di balik kepanikan itu semua, ada kepanikan lain yang sejatinya lebih menakutkan dari kepanikan yang terlihat. Hal-hal yang mungkin tidak kita sadari.

Hingga hari ini, jumlah pasien positif Corona mendekati angka 2 ribu orang, dengan jumlah korban jiwa lebih dari seratus. Beberapa dari korban jiwa itu adalah perawat dan dokter yang bekerja siang malam di tengah langkanya alat pelindung diri. Mirisnya lagi, diantara korban yang meninggal itu adalah guru besar bergelar Profesor, tonggak keilmuan kita, tonggak peradaban kita.

Semua menyesalkan hal ini, yang tak luput dari gagapnya otoritas merespon isu global bernama Corona. Setelah itu, ada dampak lain bernama sosial ekonomi. Ini yang masih bisa diharapkan membaik di tengah banyak ketidak pastian selama pandemi Corona ini.

Sektor ekonomi langsung terdampak ketika beberapa Pemerintah Daerah melaksanakan Pembatasan Sosial Berskala Besar. Kebijakan yanh muncul sebelum Pemerintah Pusat mengeluarkan peraturannya, yang notabene adalah turunan dari UU Karantina Kesehatan. Para pekerja informal terdampak akibat diliburkannya sekolah dan beberapa perkantoran. Para pengusaha kecil pun terdampak dari menurunnya aktifitas manusia.

Para pedagang asongan, para pedagang kaki lima, bahkan beberapa usaha kecil harus merumahkan karyawannya. Inilah hal mengerikan lainnya dari ketidak siapan kita mengantisipasi wabah Corona. Namun berutung, kita punya Pancasila.

Semua bisa beretorika dengan butir sila kedua, ketiga, dan kelima. Akhirnya banyak gerakan sosial membantu sesama di tengah perasaan masyarakat yang tidak merasakan kehadiran negara. Ini menjadi penanda baik, bahwa sosialisme masih berjalan di negara kita. Mungkin ini akan jadi tonggak awal kembalinya kearifan nusantara, jika semua berjalan ke arah yang sama.

Selain dua hal di atas, hal yang mengerikan selanjutnya adalah munculnya keangkuhan berjubah agama. Almutakabbir, sifat Tuhan yang katanya tidak boleh dimiliki kecuali oleh Tuhan semata. Merasa paling dekat dengan Tuhan dan mengenyampingkan peran makhluk Tuhan lainnya.

Bagi sebagian kecil orang yang memang sudah sangat dekat dengan Tuhan, dianugrahi kejernihan batin yang sempurna oleh Tuhan, ini tentu tidak masalah. Masalah justru timbul ketika mereka yang sering menggunakan jubah agama tanpa didasari pengetahuan yang cukup, merasa paling benar dan harus didengar.

Ini menjadi sumber malapetaka sesungguhnya. Menjadi sumber kebodohan yang sejatinya menjadi musuh dalam ajaran agama. Mereka yang mengganggu ketertiban tatanan sosial atas nama ke-Maha-an Tuhan. Padahal mereka sedang mempertontonkan kebodohan dan keangkuhan.

Tapi paling tidak, dengan adanya wabah ini. Kita bisa belajar mana manusia yang baik sifatnya dan mana yang tidak. Karena dalam sebulan ini, kita benar-benar dipertunjukan oleh Tuhan, sifat asli orang-orang di sekitar kita. Setidaknya selalu ada hikmah dibalik musibah!

Imam Maula Fikri

Tinggalkan Balasan