Sejarah Kelam yang Terus Diulang!

Negara ini seolah tidak pernah belajar pada sejarahnya. Beberapa tragedi di masa lalu tak pernah jelas kelanjutan kasusnya. Kini, di era pasca reformasi, mungkin negara akan menambah beban bagi warganya, berupa peninggalan sejarah kelam yang mungkin tidak akan terungkap juga siapa yang ada di balik semua ini.

30 September, selalu menjadi hari peringatan bagi bangsa Indonesia. Khususnya selama rezim Orde Baru berkuasa, pemutaran film pengkhianatan G30S/PKI menjadi agenda rutin setiap tanggal ini. Tragedi yang hingga kini menjadi misteri soal akhir dari kasus pelanggaran HAM-nya.

Banyak orang, dalam berbagai sumber, masih menyuarakan versinya masing-masing, khususnya terkait kejadian setelah 30 september 1965 itu. Namun apa pun itu, gerakan Partai Komunis Indonesia, yang saat itu menjadi partai besar, harus segera dituntaskan pertiakaian sejarahnya. Bagaimana pun, ia adalah bagian dari sejarah kelam Indonesia.

Puluhan tahun setelah itu, Indonesia kembali mengalami sejarah kelam. Runtuhnya Orde Baru di tangan mahasiswa pada 21 Mei 1998. Sebelum peristiwa itu, diduga banyak pelanggaran HAM terjadi. Beberapa diantaranya adalah penghilangan aktivis yang rajin menentang pemerintahan kala itu.

Hingga saat ini, beberapa aktivis itu tidak diketahui rimbanya, salah satunya Wiji Thukul. Diketahui juga ada penggunaan peluru tajam dalam mengahadapi mahasiswa, yang menewaskan beberapa mahasiswa yang kemudian dikenal dengan Tregedi Semanggi. Hingga kini, kasus-kasus itu masih menjadi polemik setiap tahun dan selalu ditagih setiap pemilihan Presiden.

Kini, pada 30 september 2019, beberapa hari sebelumnya, bangsa ini kembali berduka atas kerusuhan yang terjadi di Wamena, Papua. Tragedi kemanusian yang memilukan, yang sempat berbarengan dengan aksi mahasiswa di Jakarta, di mana salah satu tuntutannya adalah demiliterisasi Papua.

Kengerian di Wamena tergambar dan tersebar luas di media sosial, banyak akun yang kemudian menjadi corong masing-masing pihak, pada kasus ini seolah ada dua pihak yang memiliki kepentingan masing-masing. Selanjutnya, entah pihak mana yang bisa dipercaya. Rakyat kembali dibuat bingung, hingga nanti mungkin akan benar-benar bingung soal bagaimana kelanjutan dari kasus ini. Kasus yang mungkin di dalamnya terdapat pula pelanggaran HAM.

Negara ini seolah tidak pernah belajar pada sejarahnya. Beberapa tragedi di masa lalu tak pernah jelas kelanjutan kasusnya. Kini, di era pasca reformasi, mungkin negara akan menambah beban bagi warganya, berupa peninggalan sejarah kelam yang mungkin tidak akan terungkap juga siapa yang ada di balik semua ini.

Tragedi demi tragedi kemanusiaan semakin parah belakangan ini. Siapa yang akan hadir untuk mereka? sebelum semua ini kembali menjadi sejarah kelam yang tak akan pernah terungkap. Lalu hanya menjadi dendam yang tersimpan dalam diri anak negeri, hingga satu saat akan dipantik lagi untuk meluluhkan jantung Pancasila, Persatuan Indonesia.

Imam Maula Fikri

Please follow and like us:
0

Tinggalkan Balasan