Sang Pecundang Mimpi #2

Bukan soal sebuah wasiat, tapi dia takut mimpi yang hadir dalam tidurnya benar terjadi. Ia mencoba menghindari mimpi itu, tapi mimpi yang lainnya telah disiapkan untuk memyambut takdir hari itu.

Mimpi Pertama

Hari itu, tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Langit yang cerah tak lagi menyenangkan baginya. Hembusan angin tak begitu menyejukan untuknya. Ia tertunduk lesu di dipan depan rumahnya.

Dipan tempat ia menghabiskan hari bersama ayahnya. Setiap sore, ketika sang Ayah menikmati secangkir teh pahit buatan istri tercinta. Teh beraroma khas yang selalu ia hirup dan cicipi seperempat terakhirnya. Dari cangkir berukuran berwarna hijau milik ayahnya.

Sementara saat ini, dipan itu menjadi saksi kepedihan yang mendalam bagi dirinya. Pagi tadi, ia ikuti prosesi penguburan ayahnya. Ia turut turun ke liang lahat, serta merasakan kepedihan ketika setiap butir tanah galian menyentuh kakinya.

Lelaki monolog itu termenung. Ia tak berani menatap langit biru, juga tak berani menoleh ke arah kanan tempat duduknya. Ia hanya tertunduk lesu sambil sesekali mengusap pipinya yang basah. Ia takut dengan hari itu, bahkan jauh sebelum hari itu tiba.

Usianya yang baru menginjak 20 tahun, harus kehilangan sosok yang ia kagumi. Sosok yang selama ini menjadi penuntunnya di kala hidup begitu sangat membingungkan. Sosok yang selalu memberikan jawaban dalam diamnya, dan memberikan dukungan dalam lelucon dan amarahnya.

Rahang si lelaki monolog pun mengeras. Gigi geliginya beradu satu sama lain, tangannya mengepal keras seperti hendak meninju. Dia marah dalam bingungnya yang semakin tak terarah. Ada penyesalan yang mendalam ketika dia ingat, agar ayahnya tak dibawa ke pelayanan kesehatan menjelang akhir hayatnya.

Bukan soal sebuah wasiat, tapi dia takut mimpi yang hadir dalam tidurnya benar terjadi. Ia mencoba menghindari mimpi itu, tapi mimpi yang lainnya telah disiapkan untuk memyambut takdir hari itu.

                               ***

Sore itu, seperti biasa ia duduk bersama sang Ayah. Menikmati teh, dan senja di ufuk barat. Ada kejanggalan yang membuatnya canggung sore itu. Ayahnya mendadak menjadi pendiam, hilang keriangan dan kerenyahan obrolan yang biasa ia sajikan.

Hal ini membuatnya serba salah untuk memulai pembicaraan. Bahkan sekedar menyicipi teh pahit kesukaan ayahnya itu.

“Ayah titip ibumu sama adekmu, ya. Jaga mereka…”

“Tiap hari kan aku jagain, Yah…”

“Ayah mau pergi dulu, jangan cari ayah. Jaga mereka, jadi lelaki yang baik…”

“Ayah mau kemana? AAA…YAAA…HHH….”

Kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya tak beresonansi. Ia seperti terperangkap dalam ruang hampa udara. Mulutnya terbuka, matanya membelalak melihat ayahnya berjarak semakin jauh. Dipan itu memanjang, menciptakan jarak yang sangat jauh antara dia dan ayahnya, hingga sang Ayah hilang bersama cakrawala.

                               ***

Ia terbangun, napasnya tersengal-sengal, jantungnya berdegup hebat. Mungkin reaksi dari perubahan posisi tubuh yang secara tiba-tiba, ataupun mungkin juga karena mimpi yang dialaminya.

Ia pun berjalan segera keluar kamar dan mengendap melihat kamar kedua orang tuanya. Dilihatnya sepasang suami istri yang sedang terlelap tidur sambil berpelukan. Wajah keduanya memancarkan kehangatan dan ketenangan. Ia pun tersenyum, berbalik badan dan kembali ke kamarnya.

                            ***

Kini, di dipan tempat ia duduk, dilihatnya mimpi buruk itu. Tepat dua bulan setelah ia memimpikan kepergian ayahnya yang menitipkan pesan. Kini ia tidak bisa berkutik di hadapan mimpinya. Di atas dipan itu, ia menyesali semuanya.

Imam Maula Fikri

Please follow and like us:
0

Tinggalkan Balasan