Sang Pecundang Mimpi #1

Ia selalu terjaga sepanjang malam hanya untuk menghindari mimpi. Ia selalu pergi dari keramaian karena ia tak berani melihat banyak impian.

Mimpi, bagi kebanyakan orang adalah kesenangan. Sebagian lainnya mengartikan tujuan, dan ada yang hanya mengartikannya khayalan. Tapi tidak dengannya, dengan lelaki itu. Lelaki pendek berambut gimbal berperawakan kurus, bergigi sedikit tonggos.

Kita bisa memanggilnya lelaki kesepian, lelaki murung, lelaki monolog, atau apa pun yang menunjukan kemalangan baginya. Baginya, mimpi adalah ketakutan. Dia tidak pernah bisa mendefinisikan mimpi. Bahkan tidak juga untuk menceritakan apa mimpinya.

Seperti ada traumatik mendalan ketika ia mendengar soal mimpi. Ia selalu terjaga sepanjang malam hanya untuk menghindari mimpi. Ia selalu pergi dari keramaian karena ia tak berani melihat banyak impian.

Sebab itu lah fisiknya kecil dan seperti tak terurus. Meski begitu, ia jarang sekali mengalami sakit fisik. Mungkin penyakit pun iba melihat fisiknya yang seperti itu.

Pernah beberapa kali ia tampak memejamkan mata dalam posisi duduk. Sepertinya ia kelelahan, namun tidak sampai lima belas menit matanya sudah kembali membelalak. Nafasnya sesak, tubuhnya kaku tak bergerak, dan keringat mulai bercucuran di wajahnya yang ikut memerah.

Ia tampak ketakutan sekali kala itu. Tidur seperti bukan pilihan untuk bertahan hidup dengan tepat baginya. Tidur seperti gerbang kematian yang siap datang kapan saja, dan membuatnya tidak tenang. Ia tak berani memejamkan mata, ia takut pada mimpi-mimpinya.

Imam Maula Fikri

Please follow and like us:
0

Tinggalkan Balasan