Saat Ini, Belum Seberapa!

Manusia mempercepat kerusakan alam yang mereka tempati. Tidak semuanya, sebagian kecil yang merasa memiliki kuasa dan terus berhasrat menguasai.

Saat ini, alam hanya sedang mencari keseimbangannya. Tidak ada istilah bencana alam, karena alam memberikan segala manfaatnya. Hanya saja manusia yang tidak mampu mengelolanya. Setidaknya mengelola syahwatnya untuk menguasai alam.

Apa yang kita dengar, lihat, atau bahkan rasakan saat ini, belumlah seberapa. Sudah bukan rahasia, alam sedang menuju kehancurannya. Meskipun secara hakikatnya, ia fana dan akan tiba masa hancurnya, tapi faktor manusia yang banyak menjadi penyebabnya.

Manusia mempercepat kerusakan alam yang mereka tempati. Tidak semuanya, sebagian kecil yang merasa memiliki kuasa dan terus berhasrat menguasai.

Secara alamiah, air hanya menjalankan tugasnya. Mengalir dari hulu ke hilir, meresap ke dalam tanah, memenuhi segala kebutuhan ciptaanNya. Baik itu manusia, hewan, ataupun tumbuhan. Aliran sungai, adalah jalannya. Rawa-rawa serta akar pohon adalah tempat tinggalnya, dan laut adalah tujuan akhirnya.

Kemudian ia kembali menguap dan berkumpul sebagai awan yang pada saatnya akan menjadi hujan. Hanya seperti itu siklusnya. Sesederhana itu interaksi manusia dengan alam.

Udara menjadi panas, suhu bumi meningkat, bongkahan es mencair, air laut naik. Itu adalah akibat dari upaya manusia mempercepat kerusakan alam. Cuaca tidak beraturan, bahkan terjadi perubahan cuaca ekstrim. Akhirnya bumi pun tak sanggup menahan beban keserakahan manusia.

Pepohonan dan hutan hilang, rumah air menghilang. Terjadi banjir dan longsor, bukan kehendak alam. Pepohonan hilang, penahan angin pun hilang. Angin ribut dimana-mana, manusia kalang kabut.

Kemudian yang harus selalu diingat, ketika kita selalu mengatakan bencana alam, maka akan ada krisis yang menyertai. Tidak ada bencana tanpa kelaparan, tidak ada bencana tanpa korban. Jika pada akhirnya alam benar-benar sudah tidak mampu menampung keserakahan manusia, akankah membunuh manusia menjadi hal biasa?

Imam Maula Fikri

Tinggalkan Balasan