Pseudorealita Manusia

Kita anggap semua nyata, padahal pada masanya, semua akan hilang seolah percuma. Lalu apa yang kita harapkan dari semua yang terjadi selama hidup kita?

Dunia ini fana, artinya dia tidak nyata, maka dengan sendirinya segala sesuatu yang ada dan berjalan di dalamnya tidaklah nyata. Ada istilah latin untuk menyebut ketidak nyataan, pseudo, semu artinya. Semu berarti tidak nyata.

Kehidupan dunia ini fana, semu, pseudo, saya kira semua manusia memahami itu. Bahkan dalam frase keagamaan pun banyak disebutkan demikian. Sesuatu yang semu tidak mungkin menghasilkan kenyataan. Semu akan tetap semu, bagaimana pun rupanya.

Lalu apa yang kita percayai dari sebuah kesemuan? Moral? Hubungan sosial? Atau sebuah nilai? Mungkin semuanya semu. Apalagi semua hal yang bersifat materiil, sudah pasti sangat semu.

Moral adalah hal non materiil, dia diajarkan di sekolah-sekolah, tapi yang diajarkan hanya moral semu. Berbohong adalah satu kesalahan, tapi berbohong untuk kebaikan adalah kemakluman. Mencuri adalah kejahatan, tapi mencuri perhatian guru demi sebuah skor adalah pemakluman.

Cinta diperlukan dalam sebuah hubungan sesama manusia, tapi siapa yang menjamin cinta bisa bertahan bertahun-tahun? Lebih dari itu, manusia tidak sepenuhnya memahami cinta. Karena cinta kemudian tidak pernah satu makna. Manusia bersosialisasi, tapi hanya untuk membangun relasi, tidak untuk manusiawi.

Manusia membutuhkan manusia lain, tapi hanya untuk memenuhi kebutuhannya. Murid membutuhkan guru, pun begitu sebaliknya. Petani desa membutuhkan orang kota, pun begitu sebaliknya. Pedagang membutuhkan pembeli, pun begitu sebaliknya. Manusia membutuhkan teman sesamanya.

Satu unsur memenuhi kebutuhan unsur lainnya. Pedagang memenuhi kebutuhan pembeli, dan pembeli menguntungkan bagi pedagang. Itulah kemanfaatan, tapi siapa yang bisa menjamin semua manusia tidak dimanfaatkan? Karena biasanya, setelah semua terpenuhi, tidak ada lagi yang perlu dicari dari sebuah sosialisasi.

Semua berjalan dalam siklus itu, dalam sebuah pseudorealita. Kita anggap semua nyata, padahal pada masanya, semua akan hilang seolah percuma. Lalu apa yang kita harapkan dari semua yang terjadi selama hidup kita?

Imam Maula Fikri

Tinggalkan Balasan