Post Truth, Kebenaran Delusif

Kecuali, kita pasrah saja dalam keadaan seperti ini. Dilanda kebingungan sepanjang hari, karena terus melihat pembenaran demi pembenaran. Bukan kebenaran demi kebenaran. Kemudian saya menyebutnya dengan kebenaran delusif.

Hari-hari ini, saya banyak menemukan kebenaran yang entah benar atau tidak. Mungkin ini rasanya berada di zaman yang katanya disebut dengan post truth era. Kebenaran persepsional.

Kemarin, saya membaca satu opini dalam sebuah koran. Sedikit membahas tentang apa uang dinamakan post truth. Saya pun sedikit paham, dan dapat sedikit menyimpulkan.

Kebenaran yang didasarkan pada pembenarnya. Bukan nilai kebenaran itu sendiri. Namun orang-orang lebih cenderung mencari pembenarannya ketimbang kebenaran itu sendiri. Salah satunya melalu permainan persepsi.

Saat ini, persepsi itulah yang banyak dimainkan. Oleh siapa pun itu, baik para orang pintar, atau orang yang berpura-pura pintar. Dari tingkat pejabat hingga rakyat.

Siapa peduli pada kebenaran, yang penting kita dianggap benar, kita sudah ada dalam koridor kebenaran. Tentunya koridor kebenaran persepsional. Ketika persepsi kita diterima oleh banyak orang.

Orang-orang yang mempercayai persepsi kita sebagai kebenaran. Baik yang mempercayainya orang pintar ataupun orang bodoh. Jika benar kesimpulan saya, maka sejatinya gejala post truth ini mungkin ada sejak lama.

Ketika dulu muncul legenda yang menceritakan sesosok tokoh atau pahlawan super yang merampok kekayaan para orang kaya. Lalu hasil rampokan itu dibagikan pada rakyat miskin. Kemudian rakyat miskin tersebut menganggap apa yang dilakukan sang tokoh adalah sebuah kebenaran.

Hanya saja, saat ini, semua orang bisa memainkan persepsi apa pun. Tidak hanya orang-orang yang memiliki pengaruh besar. Sebab semua informasi bisa disebar dan diterima dengan cepat.

Apalagi jika bukan karena kemajuan tekhnologi. Kemajuan zaman digital. Tidak ada cara lain untuk menghentikan kebingungan persepsional ini, selain kita menambah kapasitas kemampuan otak kita.

Kecuali, kita pasrah saja dalam keadaan seperti ini. Dilanda kebingungan sepanjang hari, karena terus melihat pembenaran demi pembenaran. Bukan kebenaran demi kebenaran. Kemudian saya menyebutnya dengan kebenaran delusif.

Akan bertahanlah kita dengan kondisi ini?

Imam Maula Fikri

Tinggalkan Balasan