Orang Tua yang Gagal Biang Keladi Anak yang Nakal

Semua anak sama, dilahirkan dalam keadaan suci dan polos, orang tuanya lah yang membentuk mereka. Orang tua yang gagal biang keladi dari anak nakal.

Manusia adalah makhluk berkembang, itu yang kita pasti fahami. Beberapa waktu lalu saya memberi materi tentang tumbuh kembang manusia. Tepatnya tumbuh kembang anak usia prasekolah, sekolah dan remaja.

Keharusan memberi materi membuat saya harus kembali membuka buku untuk mencari bahan ajar. Dari materi yang saya baca, saya berkesimpulan, tidak ada anak yang nakal, yang ada adalah orang tua yang gagal.

Saya berkesimpulan demikian karena pada dasarnya anak adalah peniru yang ulung. Anak adalah pencari perhatian terbaik, anak adalah pelaku eksperimen terbaik. Anak atau remaja yang nakal tidak terbentuk begitu saja.

Ada proses yang sangat panjang dan kompleks dalam perkembangan seorang manusia. Contoh kecilnya adalah rasa ingin tahu yang tinggi dari anak menimbulkan banyak pertanyaan dari anak bagi lingkungan sekitarnya.

Terkadang pertanyaan dari anak yang tak ada hentinya itu, membuat orang tua jengkel. Sehingga mencari cara untuk menghentikan rasa ingin tahu anak. Begitu pun dengan tindakan anak-anak itu sendiri. Banyak hal baru yang dilakukan anak harus terhenti karena orang tua yang tak tahan melihat tingkah anaknya.

Hal ini yang akhirnya akan menjadi salah satu faktor pembentuk mental anak. Ada satu istilah yang pernah saya dengar, anak nakal itu sebenarnya sedang mencari perhtian orang tuanya. Jika benar demikian, artinya kenakalan terjadi karena ada kegagalan orang tua dalam memberikan perhatian pada anak.

Tentu banyak lagi hal yang bisa dibahas dan menentukan mental anak. Satu hal yang banyak terjadi saat ini, dan mendapat perhatian, adalah memberikan gawai pada anak sebebas-bebasnya.

Terkadang akan ada masa di mana orang tua sedang repot, sehingga anak mencari perhatian dengan meminta ini dan itu. Agar tidak menambah kerepotan orang tua, biasanya orang tua memberikan telpon pintarnya pada anak.

Satu atau dua kali tidak akan jadi masalah. Justru masalahnya adalah apa yang ada di dalam telpon pintar menarik bagi anak. Sehingga anak-anak mulai ‘kecanduan’ dengan apa yang ia lihat di telpon pintar orang tuanya.

Setelah itu, anak akan terus-terusan meminta telpon pintar sebagai media bermainnya. Parahnya adalah pemahaman anak menjadi tidak rewel ketika diberi telpon pintar, membuat anak semakin candu terhadap telpon pintar itu sendiri.

Hal yang saya perhatikan adalah anak bisa mendapatkan apa saja melalui jaringan internet yang tersambung ke telpon pintar. Ketika ada gangguan jaringan, anak akan emosi karena keasyikannya saat itu terganggu. Pola ini terus berulang ketika anak bermain telpon pintar.

Bagi saya, pola ini lah yang membentuk emosi anak menjadi tidak stabil. Anak mudah marah, bahkan perkembangan sosialnya terganggu. Jika sudah seperti itu, mungkin perkembangan anak akan terganggu dan jadilah ia anak yang susah diatur, nakal.

Padahal, jika kita runut lagi kejadiannya, ada peran orang tua yang sangat besar dalam kenakalan anak itu. Semua anak sama, dilahirkan dalam keadaan suci dan polos, orang tuanya lah yang membentuk mereka. Orang tua yang gagal biang keladi dari anak nakal.

Imam Maula Fikri

Tinggalkan Balasan