Orang Kota dan Ketakutan Mereka

Tentu tulisan ini bukan untuk membandingkan mana yang lebih baik antara orang kota dan orang desa. Tapi, mari kita melepaskan diri dari paradigma picik yang selalu mendikotomikan manusia atas nama kemajuan dan pengetahuan.

Suatu waktu saya pernah berbincang dengan teman saya. Pada akhir perbincangan itu, kami sedikit menyimpulkan, orang-orang kota itu lemah secara spiritual. Makanya, kalo kita ‘berjualan’ agama di kota besar, pasti laku keras. Kurang lebih seperti itu kesimpulan akhirnya.

Lalu di kesempatan yang lainnya, saya berbincang dengan teman yang berbeda. Topiknya hampir mirip. Saat itu kami membincangkan terapi jiwa dengan teknik yang diajarkan dalam ajaran agama. Terapi tersebut ditarif belasan juta sekali terapi. Angkanya cukup fantastis bagi kami, tapi toh banyak juga pasiennya.

Lalu pada akhir perbincangan saya ajukan kesimpulan yang sama, bahwa orang-orang kota spiritualnya tidak cukup kuat. Kemudian kami berandai-andai, soal psikologis orang-orang kota. Kesimpulannya sama, psikologis mereka lemah. Setidaknya bisa dilihat setiap akhir pekan, tempat wisata yang sama, dengan wahana atau panorama yang sama, selalu disesaki orang-orang kota yang berwisata.

Pada tulisan ini, yang pertama ingin saya tekankan adalah diksi orang-orang kota. Bagi saya, orang-orang kota ini bukan saja mereka yang bertempat tinggal di satu wilayah. Bukan mereka yang terikat oleh letak geografis yang memunculkan status perkotaan. Tapi orang-orang kota di sini adalah mereka yang selalu melekatkan diri pada modernitas.

Mereka yang selalu menganggap diri lebih maju dari mereka lainnya yang dipanggil orang desa. Mereka yang selalu merasa lebih pintar dan berpendidikan dibanding mereka lainnya yang dipanggil orang desa. Tentunya, mereka yang selalu merasa lebih dan lebih dalam hal apapun dibanding mereka lainnya yang disebut orang desa.

Pemisahan panggilan antara orang kota dan orang desa ini kemudian memunculkan istilah kampungan atau udik. Mereka yang udik selalu dianggap lebih rendah dalam hal apapun. Tapi mungkin orang-orang kota lupa akan kemungkinan orang desa yang lebih bahagia dibanding orang kota. Di sinilah kemudian penekanan selanjutnya.

Mungkin sudah banyak penelitian yang mengatakan hidup di kota besar stressornya lebih besar. Sehingga potensi stress psikologis pun lebih besar. Pada akhirnya ini membutuhkan pelarian, agar kondisi kejiwaan kembali tenang. Dua hal yang saya urai di atas, mungkin beberapa diantaranya.

Selain itu, ada kemungkinan rasa takut lebih besar dimiliki oleh orang-orang kota daripada mereka yang disebut orang desa. Ketakutan yang bisa timbul karena apa pun penyebabnya. Pengetahuan mereka akan banyak hal atau hal-hal tertentu, saya pikir itu salah satunya.

Pengetahuan tidak dijadikan wahana untuk berfikir jernih. Tapi dijadikan arus deras yang membawa manusia pada banyak ketakutan. Akhirnya, alih-alih berfikir jernih, mereka justru mencari cara bagaimana menghindar dari ketakutan yang tercipta itu. Lalu, arus informasi yang semakin kencang pun turut memperburuk kondisi.

Contoh pada kondisi tersebut, pengetahuan dan arus informasi, adalah apa yang kita saksikan selama masa pandemi ini. Bagaimana orang-orang datang ke pasar modern untuk melakukan pembelian besar-besaran barang yang mungkin tidak mereka butuhkan saat itu. Kemudian hal ini disebut panic buying.

Atau bagaimana orang mengenakana alat pelindung diri yang tak lazim digunakan di tempat-tempat umum. Inilah manifestasi-manifestasi ketakutan itu. Manifestasi lemahnya jiwa dan mungkin spiritual orang-orang kota.

Jika dikatakan, hal itu juga terjadi di pedesaan dengan adanya penolakan jenazah dan lain sebagainya. Maka, menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, apakah eskalasi dari manifestasi ketakutan yang terjadi di pedesaan lebih besar dari mereka yang hidup di perkotaan?

Tentu tulisan ini bukan untuk membandingkan mana yang lebih baik antara orang kota dan orang desa. Tapi, mari kita melepaskan diri dari paradigma picik yang selalu mendikotomikan manusia atas nama kemajuan dan pengetahuan.

Imam Maula Fikri

Tinggalkan Balasan