Orang Kaya yang Miskin

Itulah kekayaan yang sesungguhnya. Mental yang dimiliki oleh setiap orang yang sudah merasa cukup dengan apa yang dimiliki.

Pandemi Covid19 masih berlanjut di Negara kita, dengan segala polemiknya. Rasanya memang menggelikan polemik-polemik itu, tapi itulah adanya. Tapi selalu ada hal yang bisa diambil dari semua kejadian. Seperti yang pernah saya ulas dalam tulisan sebelumnya. Kita menjadi tahu siapa yang berada di sekitar kita.

Efek dari pandemi adalah kemiskinan. Hal itu tidak mungkin dielakan. Berbagai data menyebutkan, akan banyak warga negara yang menjadi miskin, dari yang awalnya rentan miskin. Jutaan pekerja diberhentikan. sebagian besar lainnya dirumahkan. Kabar lain mengatakan, ada yang dipekerjakan tapi upah berkurang.

Bantuan sosial dicanangkan, baik dari swadaya masyarakat ataupun program pemerintah. Uniknya, ada kabar yang mengatakan, bantuan sosial yang menjadi program pemerintah turut menjadi bancakan. Ah entahlah, yang jelas program itu memang berantakan.

Pada kabar-kabar itu kemudian saya berfikir, kenapa bisa demikian? Ketika kemelaratan ada di depan mata, masih saja ada oknum yang berani bermain mata. Selain itu, banyak orang yang katanya kaya, tidak juga tergugah hatinya. Lagi-lagi, entahlah!

Tapi pada titik itu, kita bisa menemukan apa itu sebenarnya kemiskinan. Hal yang sepanjang zaman selalu sangat ditakutkan. Ternyata kemiskinan bukan tentang seberapa nilai pendapatan. Apalagi sekedar angka statistika dalam hitungan per kapita.

Hari ini kita lihat, kemiskinan merupakan kerusakan mental. Ya, miskin bukan tentang seberapa harta yang ada di genggaman, tapi tentang ketakutan esok tidak bisa makan. Sehingga hal ini memicu ketamakan, seolah apa yang sudah dimiliki, bahkan yang belum menjadi milik kita, tidak akan cukup memenuhi kebutuhan kita.

Sejatinya kemiskinan adalah tentang itu semua. Tentang mental yang tidak pernah puas dan merasa harus terus menguasai dengan mengabaikan kemanusiaan. Hal ini setidaknya bisa kita simak dari berita tentang warga yang mengembalikan bantuan dari pemerintah selama masa pandemi.

Warga-warga tersebut menolak bukan karena angkuh, tapi alasan kemanusiaan. Ada yang mengembalikan bantuan sebab merasa tidak pantas menerima, yang bersangkutan sudah mendapat bantuan dari program lain. Ada yang mengembalikan bantuan karena merasa persediaan pangan mereka masih memadai. Lebih baik dikembalikan dan disalurkan kepada yang lebih membutuhkan. Bahkan tidak hanya mengembalikan, malah menggalang bantuan untuk yang membutuhkan.

Itulah kekayaan yang sesungguhnya. Mental yang dimiliki oleh setiap orang yang sudah merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Lalu memilih menanamkan empati daripada memperkaya diri. Sementara sebaliknya, miskin merupakan mental yang kemaruk dan terus merasa kurang. Tanpa pembenahan mental ini, kemiskinan tidak akan pernah lepas dari negara ini.

Imam Maula Fikri

Tinggalkan Balasan