Negeri Latah!

Awalnya ingin ikut kemajuan, mereka malah kehilangan. Lupa jati diri, dan malah sibuk memperkaya diri. Latah karena katanya ingin maju seperti negeri lain, padahal negeri lain yang banyak mencontoh pada negeri ini.

Ada satu negeri dalam sebuah cerita fiksi. Negeri yang cukup luas, terbentang sepanjang jalur matahari memutari bumi. Daratannya luas, begitu juga dengan lautnya.

Tanahnya subur, hutannya lebat, bahkan dalam sebuah mitologi peradaban dunia maju, ia dikenal sebagai tanah surga. Julukan yang tak lepas dari kekayaan dan kesuburan alamnya. Sebuah anugrah.

Negeri itu pun diketahui dan dikunjungi, lalu perlahan-lahan dijajah dan dikelabui. Kemudian penduduk negeri tersadar dan mencoba berontak dengan alat yang mereka punya, seadanya. Tak begitu canggih, tapi mampu memukul mundur para penjajah yang mengelabui itu.

Hingga akhirnya para penjajah itu pergi. Namun sayang, dalam perkembangan sejarahnya, beberapa penduduk negeri memilih mengkhianati. Apalagi motivasinya kalau bukan memperkaya diri.

Sejengkal demi sejengkal tanah pribumi mereka curi, lalu diberi kepada para pembeli. Sedikit-sedikit mereka mengelabui, katanya demi kemajuan negeri. Mengikuti perkembangan zaman, dengan acuan negeri-negeri lain yang menguasai bumi.

Alih-alih menjadi maju. Negeri itu pun semakin berantakan. Kacau balau tak beraturan. Anak negeri hantam-hantaman, satu sama lain caci-cacian. Dan satu lagi, mereka menjadi latah.

Awalnya ingin ikut kemajuan, mereka malah kehilangan. Lupa jati diri, dan malah sibuk memperkaya diri. Latah karena katanya ingin maju seperti negeri lain, padahal negeri lain yang banyak mencontoh pada negeri ini.

Akhirnya banyak yang antipati dan tidak tahu diri. Negeri ini pun entah akan seperti apa lagi. Menunggu waktu demi waktu, yang katanya akan membawa perubahan. Padahal kemerdekaan sudah lama mereka proklamirkan.

Tapi janji para petinggi negeri tak pernah datang menghampiri. Entah pergi kemana janji-janji itu. Mereka lari bersama cerita mitologi yang pernah menghampiri. Itulah negeri fiksi.

Imam Maula Fikri

Please follow and like us:
0

Tinggalkan Balasan