Meredalah Papua!

Mungkin kita tidak pernah tahu, seberapa banyak kontribusi tanah Papua untuk negeri ini. Tapi sudah pasti, kekayaan tanah Papua banyak yang keluar dari tempatnya.

Bulan kemerdekaan tahun ini, tidak berjalan baik-baik saja. Sebelum perayaan, kejadian rasisme menimpa saudara kita warga Papua yang belajar di tanah Jawa. Kasusnya pun masih diusut hingga saat ini. Paling tidak itu berita yang saya baca pagi tadi.

Terlepas dari pengusutan itu, tragedi tersebut membawa dampak yang cukup panjang. Hampir dua minggu ini dampak tersebut terus dibicarakan. Bahkan di jagat maya, standar pergaulan sosial saat ini, dampak ini masih terus ramai menghiasi beranda.

Demo besar-besaran di Tanah Papua, demo di beberapa kota besar, hingga di depan istana dan di depan Mabes TNI AD. Di Tanah Papua kabarnya lebih mengerikan dari apa yang terjadi di Ibu Kota. Ada pembakaran, bahkan kabarnya ada korban meninggal. Namun hingga saat ini langkah dari pemerintah pusat belum banyak beritanya.

Di lini masa, lebih banyak berita mengenai rencana perpindahan ibukota, kenaikan iuran BPJS, atau penunjukan rektor asing. Ada hal yang justru lebih miris dari semua itu. Sebagian penduduk maya Negeri ini malah menunggangi isu rusuhnya Papua.

Mereka menjatuhkan kelompok lain yang tidak sekelompok dengannya, atau mereka membandingkan apa yang mereka alami dulu dengan apa yang dialami saudara-saudara Papua kita saat ini. Saya pernah menemukan sebuah postingan, yang mengatakan aksi saudara-saudara Papua adalah aksi anak emas yang marah.

Ini sangat menjengkelkan. Seolah mereka lupa, bahwa apa yang mereka nikmati di Ibu Kota atau mungkin Pulau Jawa tidak lepas dari apa yang dikeruk di Papua. Mungkin kita tidak pernah tahu, seberapa banyak kontribusi tanah Papua untuk negeri ini. Tapi sudah pasti, kekayaan tanah Papua banyak yang keluar dari tempatnya.

Kondisi-kondisi seperti ini hanya memperparah saja apa yang terjadi. Bukan meredam apalagi memperbaiki. Dendam politik yang disimpan sebagian orang itu, tidak berkontribusi membangun negeri seperti kontribusi Tanah Papua pada negerinya.

Sudah saatnya semua elemen negeri menahan diri. Khususnya di tingkat akar rumput, karena di tingkat elite hal tersebut pun belum juga tampak. Berhenti menunggangi isu Papua demi dendam kelompok politik kalian. Negeri ini harus kuat secara internalnya, karena ancaman dari luar bisa datang kapan saja.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk merendahkan saudara-saudara kita di Papua. Juga tidak bermaksud memecah antar warga negara. Tulisan ini hanya sebuah refleksi pribadi, bahwa bangsa kita sedang tidak baik-baik saja. Kembalilah pada dasar negara, Persatuan Indonesia.

Imam Maula Fikri

Please follow and like us:
0

Tinggalkan Balasan