Merawat Perempuan, Merawat Kehidupan

Maka dari itu, manusia-manusia hebat yang berhasil menciptakan peradaban hebat, pasti memiliki perempuan hebat yang mengasuhnya dengan hebat, ibu. Dengan demikian, merawat perempuan itu berarti merawat kehidupan.

Hari ini, 8 maret, diperingati sebagai hari perempuan internasional. Hari yang kemudian dijadikan tanda pergerakan perempuan dalam memperjuangkan kesetaraan dalam banyak hal. Termasuk diantaranya kesetaraan pendidikan, sosial dan ekonomi.

Dari sejarah panjang tentang hari perempuan, saya ingin menuliskan tentang pentingnya arti perempuan dalam kehidupan manusia. Perempuan adalah fondasi dari kehidupan manusia itu sendiri. Tanpa perempuan, manusia tidak akan pernah mencapai peradaban terbaiknya.

Dalam diri perempuan, terdapat kasih sayang Tuhan. Tuhan menitipkan awal mula kehidupan dalam tubuh perempuan, dalam rahim. Kemudian Tuhan menitipkan ciptaan terbaiknya, manusia, untuk diasuh oleh perempuan. Setidaknya untuk mendapatkan pertahanan tubuh terbaik melalui ASI.

Konon katanya, 80 persen kecerdasan manusia pun diturunkan dari sosok ibu, perempuan. Saya pun belum membaca secara langsung perihal ini. Namun saya percaya, dalam diri perempuan lah pendidikan terbaik didapatkan.

Manusia tidak akan tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang baik jika tidak diasuh dengan baik oleh perempuan. Perempuan menghabiskan lebih banyak waktunya dengan manusia kecil, ketimbang lelaki yang secara alamiah bertugas mencari nafkah. Jika ibu tidak cerdas dalam merawat manusia kecil, niscaya manusia kecil itu tidak akan tumbuh menjadi manusia hebat.

Maka dari itu, manusia-manusia hebat yang berhasil menciptakan peradaban hebat, pasti memiliki perempuan hebat yang mengasuhnya dengan hebat, ibu. Dengan demikian, merawat perempuan itu berarti merawat kehidupan.

Kemunduran Peradaban dalam Eksploitasi Perempuan

Hal yang hebat tidak akan ada tanpa ancaman yang hebat. Begitu pun dengan makhluk bernama perempuan. Sejak era peradaban awal manusia hingga masa modern ini, perempuan selalu saja menjadi objek eksploitasi. Dengan berbagai cara, bentuk, dan rupa.

Pelecahan dan pelacuran adalah salah satu contohnya. Namun itu hanyalah eksploitasi kasat mata yang tampak pada permukaan. Buruh perempuan yang tidak diberikan haknya, adalah bagian lain dari eksploitasi kasat mata.

Ada hal yang lebih parah daripada eksploitasi-eksploitasi kasat mata seperti disebutkan di atas. Eksploitasi politik, eksploitasi pengetahuan, hingga eksploitasi gaya hidup. Itulah eksploiatsi yang lebih parah dan tidak mudah dibendung.

Pilpres 2019 adalah salah satu fenomena yang paling mudah untuk dijadikan contoh sebagai eksploitasi politik terhadap perempuan. Banyak perempuan yang digiring secara politik, dengan jargon emak-emak, hanya untuk menambal kekurangan jumlah suara.

Tidak lama ini, pernah heboh jebakan seorang anggota DPR RI atas WTS yang dipesan melalui jejaring media sosial di Padang, Sumatera Barat. Ini merupakan contoh lain eksploitasi perempuan dalam ranah politik. Terbaru, soal foto sensasional aktris kita yang diperdebatkan di jagat maya.

Bukan soal posenya yang bermaslah, tapi orang-orang tertentu yang coba memanfaatkan situasi atas foto itu. Modusnya apalagi kalau bukan untuk mencari perhatian dan dukungan publik. Tubuh dan pakaian perempuan kembali dieksploitasi dalam kehebohan ini.

Dalam ranah industri, tubuh perempuan selalu dijadikan objek daya tarik pemirsa televisi atau kanal-kanal serupa lainnya. Dalam hal gaya hidup, dunia industri paling faham bgaimana caranya membuat perempuan menjadi konsumtif. Mereka digiring untuk membeli produk industri, seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Para kapitalis bekerja memeras isi kantong dan tenaga perempuan agar ekonomi mereka berputar.

Mungkin ini yang disebut dengan perang tanpa musuh. Perempuan yang merupakan tonggak peradaban, dibiarkan tidak berkembang bahkan tertinggal dengan cara-cara eksploitatif yang tidak kasat mata. Karena musuh manusia faham perihal merawat perempuan berarti merawat kehidupan. Maka jika ingin menghancurkan kehidupan, hancurkan saja perempuannya. Majulah Perempuan Indonesia!

Imam Maula Fikri

Tinggalkan Balasan