Mengkritisi Itu Kontribusi

Sekali lagi, kontribusi tidak harus menjadi bagian dari dalam diri atau sistem yang dikritisi.

Dari awal pekan ini, Indonesia kembali diramaikan dengan pergerakan mahasiswa yang massif. Pergerakan yang sebenarnya dimulai dari beberapa agenda sebelumnya, itu yang saya baca. Hanya tidak semassif tiga hari belakangan.

Langkah ini diapresiasi banyak pihak, karena mahasiswa kembali ke jati diri mereka. Namun dari banyak apresiasi itu, ada saja beberapa yang bermain persepsi melalui komentar mereka. Salah satunya mereka yang mengatakan, “jangan hanya kritik tanpa ada solusi,”

Saya cukup jengah dengan kalimat ini. Karena selalu muncul ketika ada koreksi terhadap satu sistem, dalam hal ini sistem pemerintahan kita. Kemudian muncul semacam pandangan bahwa yang baik adalah mereka yang beraksi dalam kontribusi, bukan yang kritik tanpa aksi.

Padahal aksi itu tidak mungkin muncul tanpa adanya kritikan sebagai reaksi dari ketidak beresan. Kritik adalah awal dari adanya aksi. Kritik adalah daya nalar awal kita atas sesuatu hal. Tidak mungkin kita bisa mengatakan apa itu baik dan buruk tanpa ada nalar kritis.

Mengkritik bukan berarti membenci apalagi mencaci, mengkritik artinya menjaga keseimbangan antara baik dan buruk. Jika ada keburukan lalu dikritisi, artinya keburukan itu harus diperbaiki, bukan dipertahankan. Siapa yang berwajib memperbaiki? Mereka yang memiliki klaim atas kebenaran itu sendiri, atas apa yang mereka sebut dengan argumentasi.

Kritik bisa muncul dari dalam diri, juga dari orang lain. Sama artinya, kritik dapat muncul dari dalam sistem ataupun dari luar sistem. Baik itu muncul dari dalam ataupun dari luar, yang berhak bahkan mungkin wajib, serta bisa memperbaiki diri atau sistem, tentunya yang menguasai diri atau sistem itu sendiri.

Jangan kemudian ditantang dengan kalimat lain bernada tantangan, “sini kemari masuk ke dalam sistem,”. Tantangan yang mungkin hanya keluar dari mereka yang tidak sanggup atau tidak mau memperbaiki diri. Padahal berkontribusi tidak harus menjadi dari bagian diri itu sendiri.

Kritik adalah sebuah kontribusi, karena ia merupakan awal dari perbaikan. Jika kita malah menutup diri atas kritik, apa bedanya kita dengan batu yang tidak mampu mendengar apa yang kita mau. Padahal batu saja bisa berubah jika terus menerus terkena dinginnya tetesan air. Lalu apa kabar kita sebagai manusia jika masih anti terhadap kritik?

Sekali lagi, kontribusi tidak harus menjadi bagian dari dalam diri atau sistem yang dikritisi.

Imam Maula Fikri

Please follow and like us:
0

Tinggalkan Balasan