Meneladani Kepasrahan Ibrahim

Maka rasanya tidak akan lengkap jika kita merayakan Hari Raya Iedul Adha tanpa meneladani sosok Ibrahim. Sosok yang kemudian disebut sebagai Bapak para nabi. Sosok yang mengajarkan ketulusan, keikhlasan, dan kepasrahan.

Sejak sore kemarin, takbir berkumandang dimana-mana. Pertanda puncak ibadah haji bagi yang menunaikannya, sekaligus menjadi tanda dirayakannya hari raya Iedul Adha bagi umat muslim seluruh dunia.

Ketika berbicara Iedul Adha, semua akan merujuk pada peristiwa sejarah besar dalam peradaban umat manusia. Ketika Nabi Ibrahim hendak menyembelih anaknya, Nabi Ismail sebagai sebuah perintah. Lalu Allah menggantinya dengan seekor sembelihan yang agung, bidzibhin adziim.

Sejak itulah penyembelihan hewan kurban disyariatkan. Berbicara sejarah itu, maka akan banyak pemaknaan dari para ulama. Salah satunya yang sering kita dengar adalah tentang kepatuhan Ibrahim. Tentang takwanya, dan tentang kesalehan Ismail.

Saya pribadi tertarik dengan cerita itu. Namun ketertarikan saya kemudian mengerucut pada sosok Ibrahim sebagai seorang hamba sekaligus Nabi. Peristiwa penyembelihan bukan hanya tentang syariat, ketakwaan, dan kesalehan.

Peristiwa itu merujuk pada kepasrahan seorang manusia, seorang hamba, seorang Nabi, sekaligus seorang Ayah. Seorang ayah yang cukup lama mendambakan kehadiran seorang anak.

Dalam penantian itu, Ibrahim memohon pada Allah agar dikaruniai seorang anak yang soleh. Namun ketika doa itu terkabul, ia diperintahkan untuk menyembelih putranya tersebut.

Belum lagi, perintah itu datang dari sebuah mimpi yang kemudian ia ceritakan pada anaknya, Ismail. Lalu, Ismail pun meminta ayahnya untuk mematuhi perintah tersebut.

Satu hal yang mungkin tidak akan dipercayai oleh manusia modern saat ini. Ketika mimpi hanya diartikan sebagai sebuah bunga tidur atau proyeksi alam bawah sadar. Bagi saya, mungkin itu salah satu makna kurban yang disyariatkan. Tawakkal dan pasrah.

Tidak hanya menyembelih hewan atau secara simbolis menghilangkan sifat hewani yang menempel pada manusia. Sebagai seorang manusia dan seorang Ayah, Ibrahim hadir mencontohkan keikhlasan, ketundukan, dan kepasrahan pada Tuhannya.

Terlebih lagi, sosok Ibrahim pun menjadi contoh yang harus ditiru umat manusia. Seingat saya, selain Nabi Muhammad, dalam Alquran nama Ibrahim disebutkan sebagai seorang yang patut ditiru.

Selain kepasrahannya kepada Tuhan, ia pun berhasil mencari kebenaran dan mencari keimanannya. Ketika ia berusaha ‘mencari’ Tuhan dengan mengira-ngira apakah bintang, bulan, dan matahari adalah Tuhannya.

Hingga ia berpasrah dan berucap, sesungguhnya saya hadapkan wajahku kepada dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan Hanif dan berserah diri. Karena itulah dikenal Millah Ibrahim, ajaran hanif.

Maka rasanya tidak akan lengkap jika kita merayakan Hari Raya Iedul Adha tanpa meneladani sosok Ibrahim. Sosok yang kemudian disebut sebagai Bapak para nabi. Sosok yang mengajarkan ketulusan, keikhlasan, dan kepasrahan.

Selamat hari raya Iedul Adha 1440 Hijriyah. Semoga kita bisa meneladani Ibrahim AS.

Imam Maula Fikri

Please follow and like us:
0

Tinggalkan Balasan