Makhluk Baru Bernama Bigoticus Politicus Sapiensis

Manusia purba spesies baru yang muncul di masa politik. Yaitu makhluk modern yang bergaya purba dengan kegoblokan yang hakiki dan begitu menempel, khususnya muncul di masa kampanye atau ketika mendukung para politisi pra ataupun pasca kampanye

Saya rasa agak sulit untuk melepas predikat goblok dari beberapa pendukung politisi di negeri ini. Khususnya pendukung yang giat berkampanye di dunia maya. Terkadang apa yang mereka tulis atau cuit di laman mereka tak pantas untuk dibaca masyarakat di tengah kontestasi politik seperti sekarang. Kritik tak lagi sebagai alat kontrol untuk sistem yang sedang berjalan, tapi sudah berubah menjadi alat caci maki. Hujatan dan hinaan, sebaran meme penuh kebencian pun mudah ditemukan.

Apresiasi pun tak lagi menjadi sebuah penilaian positif, cenderung berubah menjadi penghambaan yang jauh dari nilai sesungguhnya. Salah satunya mungkin karena kebebasan yang tak terbatas. Seperti yang pernah saya tulis beberapa waktu lalu. Di media sosial, seorang yang tak faham apa-apa, bahkan tak lulus sekolah, bisa mencap bodoh seorang profesor. Seorang yang tak tahu agama bisa lebih alim dari ulama itu sendiri.

Lalu jika kita mencoba menegur mereka, justru kita lah yang akan dianggap bodoh. Karena kita tidak sepaham dengan mereka yang pintar membodoh-bodohi orang pintar. Celakanya lagi, hal ini juga dilakukan oleh para pemuka negeri. Mereka yang memiliki posisi tawar cukup tinggi di lingkungan sosial. Pejabat, selebritas, atau sosialita media sosial dengan pengikut yang begitu banyak. Sekuat apa pun kita mencoba menenangkan nafsu mereka, sekuat itu juga mereka akan menolak ide kita mentah-mentah.

Ilustrasi. Sumber:googleimage

Semakin hari semakin menjadi. Mungkin memang sudah seharusnya seperti ini, karena menurut sebagian ‘pengamat’, gaya ini sama dengan gaya politik beberapa pemimpin negara adidaya yang memenangi pesta politik di negaranya masing-masing beberapa waktu sebelumnya. Poros dukungan tidak lagi dilandasi gagasan, tapi kebencian satu kelompok pendukung terhadap kelompok pendukung lainnya. Ini menyedihkan, di tengah upaya banyak elemen masyarakat untuk mempersatukan.

Sebagian orang ingin masa ini cepat berlalu, dan presiden selanjutnya terpilih, siapa pun itu. Meskipun usainya pesta demokrasi tidak menjamin apakah pola ini juga akan selesai. Bisa jadi setalah April nanti, pola hujat menghujat ini masih berlangsung, bahkan lebih parah. Karena sebagian mereka masih perlu mencari perhatian publik untuk mendapatkan pundi-pundi keuntungan.

Kemudian nantinya, kontestasi politik bukan lagi kontestasi memperjuangkan nasib bangsa dan negara. Tapi memperjuangkan kebutuhan ongkos rumah tangga. Karena masih banyak yang mencari nafkah di ladang bernama politik. Dan mereka akan tetap menjadi Bigoticus Politicus Sapiensis. Manusia purba spesies baru yang muncul di masa politik. Yaitu makhluk modern yang bergaya purba dengan kegoblokan yang hakiki dan begitu menempel, khususnya muncul di masa kampanye atau ketika mendukung para politisi pra ataupun pasca kampanye. Tentunya itu hanya lucu-lucuan saya saja. Atau mungkin saya dan anda bagian dari spesies itu? Bisa jadi!

Imam Maula Fikri

Please follow and like us:
0

1 thought on “Makhluk Baru Bernama Bigoticus Politicus Sapiensis

Tinggalkan Balasan