Kita Berislam Untuk Siapa?

Islam lebih luas dari apa pun sebagai sebuah ajaran. Hanya persepsi manusia yang sempit dan picik yang akhirnya menjadikan Islam seperti ajaran yang tidak manusiawi atau tidak mengikuti perkembangan zaman. Padahal waktu telah menguji ketahanan ajaran Islam itu sendiri.

Islam merupakan ajaran yang sudah teruji oleh zaman. Sebelum dinyatakan sebagai Agama yang diridhoi Allah, Islam yang disebarkan Nabi Muhammad berhasil menjawab setiap tantangan zaman.

Dimulai dari masa penuh ancaman di kota Mekkah, lalu dilanjutkan dengan sebuah peradaban baru di Madinah, hingga mampu melakukan ekspansi ajarannya ke sepetiga dunia pada masa keemasannya. Hingga akhirnya menjadi agama degan penganut terbesar seantero dunia.

Itulah masa keemasan Islam sebelum ‘kalah’ dengan peradaban baru yang muncul belakangan ini. Kini, Islam kembali mencoba mencari kebangkitannya dengan berbagai versi masing-masing pengikutnya.

Ada yang senang bernostalgia dengan romansa kejayaan masa lalu, ada juga yang mencoba menjadikan Islam lebih modern mengkuti zaman.

Terlepas dari semua kepentingan di baliknya, termasuk kepentingan politik global, itulah yang kita jalani saat ini. Islam berada diantara euforia kejayaan masa lampau dan harapan di masa mendatang. Hingga akhirnya kita tidak lagi menempatkan Islam sebagai sebuah ajaran. Lebih kepada alat untuk memenuhi euforia dan harapan.

Padahal Islam sebagai sebuah ajaran, cakupannya lebih luas dari dua hal itu. Sebagai sebuah ajaran, Islam tidak hanya membicarakan surga dan neraka, tidak hanya soal haram dan halal, tidak hanya soal wajib dan sunnah. Tapi juga berbicara tentang banyak hal termasuk soal sosialisme dan identitas diri.

Ketika kita mempertentangkan bagaimana cara berpakaian yang sesuai syariat atau tidak, sudahkah kita bertanya pada tetangga kita, apakah hari itu mereka sudah makan?

Ketika kita mempertentangkan halal dan haram produk sosial, apakah kita sudah bertanya siapa diri kita sebenarnya. Sudahkah kita benar-benar islam saat itu?

Begitu pun ketika kita optimis islam kita yang paling islam, dan cara berislam kita yang akan membawa kemajuan, sudahkah kita bertanya berapa anak jalanan yang kita dekati untuk diberikan pemahaman keislaman?

Islam lebih luas dari apa pun sebagai sebuah ajaran. Hanya persepsi manusia yang sempit dan picik yang akhirnya menjadikan Islam seperti ajaran yang tidak manusiawi atau tidak mengikuti perkembangan zaman. Padahal waktu telah menguji ketahanan ajaran Islam itu sendiri.

Tidak ada yang perlu dikembalikan ke masa lalu, juga tidak perlu mempertentangkan masa depan. Sebagai sebuah ajaran, Islam sudah final, hanya implementasi penafsirannya yang akan terus menyesuaikan perspektif manusia. Dan manusia, cenderung mengikuti nafsunya. Lalu, untuk siapa kita berislam?

Imam Maula Fikri

Please follow and like us:
0

Tinggalkan Balasan