Kepanikan itu Bernama Corona

Pertama, masyarakat masih mudah menelan mentah-mentah informasi yang beredar, ini berhubungan sekali dengan tingkat literasi masyarakat kita. Kedua, seperti ada hukum pasar, kepanikan anda adalah market bagi kami.

Wabah Corona belum juga usai. Pemerintah Indonesia yang sedari awal tampak tidak sigap, bahkan cenderung menyepelekan, kasus ini, kini harus pontang-panting menahan arus. Arus penyebaran juga arus kepanikan masyarakat.

Pada 2 maret lalu, Presiden mengumumkan adanya pasien positif Corona. Kemarin, 13 maret, secara resmi pemerintah mengumumkan 69 pasien positif Corona. Empat diantaranya meninggal, dan lima lainnya sembuh dan dapat dipulangkan.

Namun semuanya belum usai, penyebaran seolah baru terjadi di Negara kita, di tengah kesuksesan china dan salah satu negara Asia Tenggara yang mampu melewati masa krisis. Pemerintah terus melakukan pemantauan, dan banyak aktifitas terhenti, salah satunya meliburkan sekolah.

Hal ini sudah dilakukan Pemkot Solo dengan meliburkan sekolah SD hingga SMP. Kemudian disusul Pemprov DKI yang meliburkan semua sekolah di DKI selama dua pekan. UI pun melakukan hal serupa tapi tak sama. Mengganti kegiatan belajar tatap muka dengan pembelajaran jarak jauh. UGM mengikutinya, kabar terakhir yang saya terima dari kawan mahasiswa, UMJ dan Gunadarma pun menempuh langkah serupa.

Akan banyak hal yang terdampak dari kasus ini. Namun yang paling terdampak adalah kenyamanan dan keamanan masyarakat kita. Hampir dipastikan tidak ada masyarakat yang tidak panik dengan kasus ini. Setidaknya, saya merangkum ada empat hal yang membuat kepanikan ini terjadi.

  1. Penyebaran virus melalui droplet

Covid-19 merupakan virus yang menyerang sistem pernafasan. Penyebarn virus ini melalui droplet, atau partikel udara. Muncratan air liur ketika bersin atau batuk, ketika kita berkomunikasi dengan orang lain secara verbal, adalah contoh dari droplet sehari-hari.

Penyebaran penyakit melalui droplet memang bisa dibilang sangat cepat. Bahkan ketika saya maih aktif sebagai pewarta, saya pernah mendengar statement dari Kepala Bidang Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan di daerah saya yang mengatakan secara penyebaran, TB paru lebih bahaya dari HIV. Karena penyebarannya melalui droplet.

Penyebaran yang cepat itu membuat masyarakat mudah panik, terutama mereka yang tidak terpapar pendidikan kesehatan dengan baik. Terlebih lagi, sejak Januari hingga Februari, Indonesia memasuki musim penghujan. Di musim seperti ini, batuk dan pilek adalah penyakit yang lumrah dialami oleh masyarakat. Kabar adanya Corona, yang gejalanya juga batuk dan pilek, membuat masyarakat semakin resah.

2. Belum Adanya Antivirus COVID-19

Dari sejak merebaknya hingga saat ini, virus yang menyebabkan Corona dinyatakan belum ada antivirusnya. Kabar terakhir yang beredar melalui berita daring, pada akhir Januari China sedang mengajukan hak paten antivirus Corona. Lalu ada berita lain juga, awal maret lalu, Israel mengumumkan antivirus Corona akan tersedia dalam 90 hari. Artinya Israel sedang melakukan uji klinis.

Bisa jadi, kondisi ini pun menjadikan warga dunia panik, termasuk Indonesia. Ditambah lagi, adanya korban jiwa dalam tragedi wabah ini. Meskipun angka kematiannya sangat kecil jika dibandingkan dengan angka kesembuhannya. Masyaralat sudah cenderung panik sedari awal.

3. Pemberitaan di Media Mainstream dan Media Sosial

Tidak bisa dipungkiri, kemajuan tekhnologi khususnya di bidang informasi, banyak merubah wajah masyarakat dunia. Dalam tragedi wabah Corona ini adalah salah satu contohnya. Kepanikan pertama muncul ketika akhir 2019 atau awal 2020, jagat media sosial ramai dengan sebaran video yang menggambarkan suasana di salah satu kota di China.

Dalam video itu, ditampilkan gambar orang-orang yang terjatuh secara tiba-tiba di jalanan. Dalam aktivitas sehari-hari, seperti zombie. Lalu muncul berita tentang Corona di banyak media. Pun visualisasi penangan Corona oleh petugas dengan alat perlindungan diri yang super lengkap.

Tidak sampai di sana saja. Media-media mainstream pun lebih banyak memberitakan tentang perkembangan kasus dan jumlah kematiannya. Mungkin tujuan awalnya baik, untuk meningkatkan kewaspadaan. Namun yang terjadi malah terbalik, warga panik bukan kepalang.

Padahal secara statistik sejak kejadiannya hingga saat ini, lebih banyak pasien yang sembuh daripada yang meninggal. Di sini seolah ada dua fakta yang terlihat. Pertama, masyarakat masih mudah menelan mentah-mentah informasi yang beredar, ini berhubungan sekali dengan tingkat literasi masyarakat kita. Kedua, seperti ada hukum pasar, kepanikan anda adalah market bagi kami.

4. Langkah Pemerintah yang Dinilai Lambat

Poin terakhir ini tidak bisa dipungkiri oleh siapa pun. Pemerintah kita, dinilai sangat lambat. Bahkan WHO sampai memperingatkan Pemerintah kita agar menetapkan waspada nasional.

Mungkin pemerintah sudah atau sedang menyiapkan langkah senyap seperti kata Bapak Presiden. Namun langkah senyap itu tidak terasa oleh masyarakat. Sehingga masyarakat menganggap pemerintah tidak hadir untuk memproteksi masyarakatnya dalam tragedi wabah ini.

Hal tersebut dapat dilihat dari langkah-langkah awal pemerintah. Seperti menggelontorkan 72 Milyar untuk influencer pariwisata, meskipun kabarnya ditunda. Tidak memperketat keluar masuknya warga negara asing, hingga terkesan menutupi kasus ini.

Pernah saya baca dalam sebuah laman daring, pada kasus pertama Corona di Kota Depok, Pemerintah Kota sempat diminta tidak menyampaikan kasus ini kepada media oleh Pemerintah Pusat. Meskipun seperti biasa, desas-desus itu ditutup dengan bantahan oleh jajaran pemerintahan yang lebih atas.

Wajar jika akhirnya masyarakat merasa resah dan panik. Bukan saja karena menganggap pemerintah tidak hadir, tapi juga sedang menyembunyikan sesuatu dari kasus ini.

Sekarang, semua warga diminta waspada di tengah kepanikan yang sudah ada. Kepanikan yang diciptakan oleh manusia sendiri. Akhirnya kita tidak bisa menyalahkan warga yang panik dan semua kepanikan yang ada.

Hal yang paling mungkin dilakukan adalah, terus mengawasi kinerja pemerintahan di tengah kepanikan. Serta tetap menjaga daya tahan tubuh, menjaga kebersihan lingkungan, serta memperkuat mental dan spiritual agar kita tidak mudah stress. Sebab stress adalah faktor utama yang memperlemah fisik manusia.

Imam Maula Fikri

Tinggalkan Balasan