Kembali Lagi, Alay Itu Proses!

Saya jadi teringat salah satu tulisan saya, alay itu fase perkembangan manusia. Bedanya ada yang berhasil melewati fase itu, ada yang gagal.

Tidak ada yang kebetulan dalam kehidupan kita, semua sudah ada dalam satu rencana, sekecil apa pun kejadiannya. Itu yang saya percayai, dan itu pula yang sore ini saya alami, lagi. Beberapa waktu lalu, saya agak sering menulis tentang mental dan proses pendidikan. Sore ini saya ditampakan soal itu. Mungkin terlalu berlebihan jika dihubung-hubungkan, tapi saya tidak bisa mengelakan.

Duduk di KRL yang mengarah ke Manggarai, adalah impian sederhana saya setiap hari, karena setelah dari Manggarai, saya harus berdesakan atau minimal berdiri menuju Cakung dengan KRL relasi Bekasi. Tapi siapa yang duduk di sebelah saya yang terkadang merusak impian kecil itu. Saat kereta berhenti di stasiun yang dekat salah satu kampus besar, masuk dua pemuda lalu duduk persis di samping saya. Perkiraan awal saya mereka berdua mahasiswa, terlihat dari perawakan dan apa yang mereka bawa. Saya telisik, benar, ada satu aksesoris yang menunjukan mereka seorang mahasiswa.

Mereka pun berbincang, hingga saya yang sedang asyik baca novel merasa terganggu. Begitu pun dengan dua orang ibu-ibu yang duduk di seberang tempat saya duduk. Keduanya beberapa kali kedapatan melirik dua mahasiswa samping saya. Tidak hanya sampai di situ, cara mereka berbicara pun menunjukan kelas mereka. Atau paling tidak mencoba menunjukan di mana strata mereka.

Dialek khas anak muda zaman ini, lengkap dengan pengucapan yang berlebihan. Mengucap huruf “C” dalam susunan alfabet seperti mengucap huruf “syin” dalam susunan huruf bahasa Arab. Beberapa kali juga saya dengar mereka menggunakan kalimat bilingual dalam percakapan mereka. Kalimat-kalimat bahasa Inggris yang mungkin pengucapannya lebih fasih dari para turis, beberapa kali saya dengar. Saya tidak ingat jelas apa kalimatnya. Isi percakapan pun mengenai curhatan satu sama lain, jalan-jalan, atau pandangan mereka soal kisah asmara sahabatnya yang lain.

Mungkin bagi mereka, itu adalah hak individual mereka. Dalam istilah kerennya, hak asasi manusia. Hak kebebasan. Tapi dalam benak saya dan dua ibu-ibu yang saya dapati melirik pada dua mahasiswa ini, mereka melanggar hak kami. Dengan kegaduhan yang dibuat, dan bagi saya pribadi dengan tata cara mereka berbicara. Terlebih bagi saya, ini terjadi di kalangan mahasiswa. Kemudian saya berfikir, apakah tidak ada tema lain yang bisa mereka obrolkan di tempat umum selain tema obrolan mereka saat itu.

Ah sudahlah, saya jadi berfikir, mungkin dulu saya juga pernah begitu. Berbicara seenaknya, tanpa kontrol suara, juga dengan tata bahasa yang serupa. Saya jadi teringat salah satu tulisan saya, alay itu fase perkembangan manusia. Bedanya ada yang berhasil melewati fase itu, ada yang gagal. Mereka yang gagal akhirnya menjadi manusia tua yang menyebalkan. Toh, hidup ini hanya serangkaian proses.

Sepanjang perjalanan Depok Bar hingga Manggarai, saya mencoba mengurai kewajaran-kewajaran itu. Hingga pada satu kalimat mereka, saya benar-benar sadar jika apa yang saya dengar adalah wajar. Saya akan ilustrasikan dua mahasiswa itu dengan si baju biru (SBB) dan si baju merah (SBM). Begini obrolan mereka yang menyadarkan kewajaran saya.
SBB : “Lu kan melambay….”
SBM : “Eh tapi gua masih normal ya, anjing!” Mereka berdua tertawa. Saya bergumam dalam hati, “oooh….pantes!”

Imam Maula Fikri

Please follow and like us:
0

1 thought on “Kembali Lagi, Alay Itu Proses!

  1. Ping-balik: URL

Tinggalkan Balasan