Kemana Sila Kelima?

Sudah menjadi tugas negara untuk memenuhi itu semua. Sila kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Rakyat bekerja untuk negara, negara ada karena adanya rakyat, untuk itu sudah saatnya negara kembali hadir untuk rakyat.

Selasa, 13 Agustus 2019. Pagi di hari itu, di salah satu lampu merah di Kota Depok. Seorang anak kecil memainkan biola lagu nasional, Tanah Airku. Entah baik atau tidak permainannya, yang pasti enak didengar.

Tapi dari pemandangan itu, yang saya ingat, saat itu adalah beberapa hari menjelang kemerdekaan Indonesia yang ke-74. Selama itu kita merdeka, selama itu pula mungkin kita melihat orang banyak yang menjadi seniman jalanan.

Bukan berarti menjadi seniman jalanan adalah buruk, namun stigma masyarakat kita pasti sama. Mengamen di lampu merah berarti tidak sejahtera. Lagi pula, sepertinya mengekspresikan bakat seni di jalanan seperti itu tampaknya bukan ideal diri siapa pun.

Saya rasa semua orang yang memiliki ekspresi seni, ingin menampilkan seninya di tempat yang laik menurut banyak orang. Di atas panggung baik di kafe atau pun pertunjukan, atau di galeri-galeri seni. Masalahnya belum semua bisa mencapai itu.

Belum lagi kita tidak tahu, apakah mereka yang mengekspresikan seni di jalanan, karena mereka mau atau karena mereka terpaksa demi menyambung hidup. Masalah akan cukup rumit jika kemudian ternyata alasan kedua yang mereka pakai.

Karena paling tidak, itu menunjukan negeri kita yang sudah 74 tahun merdeka ini, manusianya belum sepenuhnya sejahtera. Negara tidak mampu menghadirkan kesejahteraan yang merata bagi rakyatnya. Meskipun banyak data yang diberikan penguasa.

Lagi-lagi entah kemana sila kelima. Para pengamen jalanan bukanlah satu-satunya yang tidak merasakan sila kelima. Banyak individu kita yang sejatinya belum merdeka. Mereka tidak merasakan kehadiran negara dalam hidupnya, kecuali pada saat menjelang pesta demokrasi.

Lalu lagi-lagi asumsi ini pasti terbantahkan dengan akrobat data milik negara. Dengan bualan para penguasa. Dan tentunya ocehan para penjilat penguasa. Meskipun nyatanya, keadilan sosial belum juga merata.

Sudah menjadi tugas negara untuk memenuhi itu semua. Sila kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Rakyat bekerja untuk negara, negara ada karena adanya rakyat, untuk itu sudah saatnya negara kembali hadir untuk rakyat.

Merdeka negeriku, merdekalah individunya, hiduplah jiwanya hiduplah badannya, untuk Indonesia Raya!
Dirgahayu Indonesiaku!

Imam Maula Fikri

Please follow and like us:
0

Tinggalkan Balasan