Kantong Sosial itu Bisa Jebol Juga!

Kantong-kantong sosial itu memiliki masa. Pada masanya, ia akan jebol juga jika negara, dalam hal ini diwakilkan pemerintahan melalui programnya, tidak juga hadir di tengah masyarakat selama masa paceklik

Maret 2020, tepatnya pada hari kedua bulan itu, Indonesia resmi mengumumkan adanya pasien positif Covid19. Saat ini, kita sudah berada di bulan Mei. Artinya kita sebagai sebuah komunitas negara sudah berjuang bersama melawan covid19 selama dua bulan lebih dua hari. Seperti diketahui, covid19 bukan saja melemahkan sistem kesehatan, tapi juga sistem ekonomi kita.

Banyak ahli sudah berbicara tentang krisis yang terjadi. Bahkan kabar PHK besar-besaran serta dirumahkannya banyak pekerja sudah sering kita dengar belakangan ini. Lebih buruknya, kejadian-kejadian ini terjadi di bulan Ramadhan, yang mana biasanya umat muslim gegap gempita menyambutnya hingga datangnya Hari Raya Iedul Fitri.

Tahun ini, jangan dibayangkan ada ketupat dan baju baru, dapat THR pun masih beruntung hitungannya. Sejak awal diumumkannya kasus pertama, Pemerintah kita selalu menggaungkan gotong royong. Meminta warga saling membantu. Pertanyaan yang mungkin muncul selanjutnya, sampai kapan?

Kemarin malam, saya baca berita terkait bantuan pemerintah yang masih semrawut. Beberapa hari sebelumnya membaca berita tentang pengakuan Menteri tentang keterlambatan bantuan karena lamanya proses cetak kantong bantuan. Padahal, dampak ekonomi sudah sangat lama terasa.

Kantong-kantong sosial berupa gotong royong melalui donasi masyarakat adalah satu kebaikan. Menunjukan adanya rasa kebersamaan yang dimiliki masyarakat kita. Tapi di tengah ketidak pastian ini, mengandalkan itu saja tidak akan cukup.

Kantong-kantong sosial itu memiliki masa. Pada masanya, ia akan jebol juga jika negara, dalam hal ini diwakilkan pemerintahan melalui programnya, tidak juga hadir di tengah masyarakat selama masa paceklik. Seperti kita tahu, dampak ekonomi dari pandemi ini tidak hanya dirasakan oleh para masyarakat kecil. Mereka kelas menengah ke atas pun merasakan dampak yang sama.

Untuk waktu tertentu, mereka kelas menengah ke atas mungkin bisa diandalkan untuk menambal kebutuhan masyarakat kecil. Itu dilakukan selama pemerintah mematangkan rencananya. Tapi jika rencana itu tak kunjung matang, kantong kelas menengah ke atas yang dermawan pun akan habis. Lalu apa dampaknya?

Perut yang lapar tidak bisa ditunda untuk diisi. Mereka yang sudah menahan lapar sejak lama, bisa saja berbuat nekat. Melakukan apa yang tidak pernah mereka lakukan sebelumnya. Kita tidak berharap akan terjadi hal buruk, tapi kriminalitas selalu berjalan beriringan dengan kemiskinan, kemelaratan, kelaparan, atau kebutuhan dasar lainnya yang tak kunjung terpenuhi.

Pemerintah sebagai represntasi negara harus hadir sesegera mungkin. Sudah tidak bisa lagi berapologi dengan mengatakan tidak ada negara yang siap menghadapi pandemi. Apalagi berhitung untung rugi politik dari kebijakan yang akan diambil, sungguh sangat naif. Itu harus dihindari pemerintah jika tidak ingin hal-hal buruk terjadi di kehidupan bermasyarakat kita.

Meski akan ada masanya kantong-kantong sosial itu akan jebol juga, kita masih bisa berharap pada kesolidan masyarakat sebagai sebuah bangsa. Tidak perlu mempertentangkan hal yang tidak penting, apalagi berdasar ego masing-masing. Ego itu bisa kita simpan dulu untuk dipertentangkan lagi nanti, ketika semua sudah benar-benar hening. Saya berharap, kantong-kantong sosial itu masih kuat menahan dampak pandemi ini, meski entah sampai kapan!

Imam Maula Fikri

Tinggalkan Balasan