Jamuan Meja Koalisi Oligarki

Mereka mungkin sempat membenci, tapi pada kesempatan lain mereka harus satukan hati, mungkin. Duduk satu meja dalam jamuan koalisi. Dan membiarkan penderitaan dan perjuangan masa lalu seperti hilang tak berarti.

Beberapa minggu belakangan, saya mulai berfikir, bagaimana rasanya menjadi politisi pasca reformasi. Saya melihat mereka di layar kaca beradu argumen soal ini dan itu. Tapi yang lebih menarik bagi saya adalah sejarah masa lalu mereka.

Jika berbicara politisi pasca reformasi, maka kita semua akan mebayangkan sosok-sosok seperti Fadli Zon, Fahri Hamzah, Adian Napitupulu, Masinton Pasaribu, Budiman Sujatmiko, dan lainnya yang mungkin tidak dapat disebutkan satu persatu.

Memang, seperti para pendahulunya, beberapa aktifis itu memilih politik sebagai jalan perjuangan selanjutnya. Mereka semua kini duduk di kursi kekuasaan, baik sebagai posisi maupun oposisi. Baik sebagai ketua legislatif atau sebagai penyokong eksekutif.

Tapi kita semua pasti tahu, ketegangan mereka dengan para jendral yang besar di masa Orde Baru. Jendral-jendral purnawirawan itu pun tak sedikit yang memilih politik sebagai jalan pengabdian selanjutnya.

Ada Wiranto yang kini menjadi Menkopolhukam, yang baru saja diserang seseorang di Serang. Ada Prabowo sebagai ketua partai oposisi, ada Hendropriyono sebagai mantan Kepala BIN, dan juga pernah menjadi petinggi partai, dan lain sebagainya.

Dari nama-nama itu saya tertarik dengan sosok Wiranto dan Prabowo. Dua nama yang mungkin menjadi tokoh sentral yang tidak disukai banyak mahasiswa ketika era reformasi. Bahkan setelahnya pun, nama mereka masih disebut-sebut.

Semua orang tahu kekacauan ketika tahun 1997-1998, penculikan, penghilangan paksa, hingga tewasnya mahasiswa. Semua dialamatkan pada ABRI yang saat itu Wiranto sebagai Panglimanya. Lalu, Prabowo sebagai Danjen Kopassus. Nama Prabowo sering disebut sebagai yang paling bertanggung jawab atas raibnya beberapa nama aktivis.

Jika dikupas, akan sangat panjang cerita itu, karena sampai saat ini, ceritanya tidak pernah tuntas. Tapi dari sema itu, ada satu yang menarik untuk diulas, khususnya pasca reformasi. Tentang kesamaan jalan yang ditapaki para aktivis muda dengan para purnawirawan itu. Jalan politik.

Saya kemudian tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Fadli Zon yang menjadi anak buah Prabowo di partai. Atau seorang Fahri Hamzah yang mengkampanyekan Prabowo saat pencapresan. Juga entah apa yang ada di kepala Adian Napitupulu, Budiman Sujatmiko, Atau Masinton Pasaribu, ketika Wiranto dan partainya mendukung Jokowi di 2014 lalu.

Terlebih kemudian Wiranto diangkat sebagai Menko. Mereka mungkin sempat membenci, tapi pada kesempatan lain mereka harus satukan hati, mungkin. Duduk satu meja dalam jamuan koalisi. Dan membiarkan penderitaan dan perjuangan masa lalu seperti hilang tak berarti.

Benar kata orang-orang, dalam politik, tak ada yang abadi. Teman dan lawan datang silih berganti. Lawan dapat menjadi kawan, dan kawan bisa menjadi lawan. Sementara rakyat sebagai tuan, hanya menjadi batu loncatan.

Imam Maula Fikri

Please follow and like us:
0

Tinggalkan Balasan