Corona, Sebuah Tanda Peradaban Kita!

Hari-hari ini, saya merasa kita berada di peradaban pra sejarah itu. Ketika pengetahuan tidak berjalan sebagaimana mestinya, ketika akal tidak digunakan sebagaimana seharusnya, sekalipun teknologi sudah sangat jauh melompat di depan kita.

Kondisi kita hari-hari ini, benar-benar sangat menyedihkan. Bagi saya, hal yang menyedihkan itu bukanlah soal jumlah korban dan jumlah pasien Covid-19, sekalipun saya tidak menyepelekan ini dan tetap berduka cita untuk semua korban. Hal paling menyedihkan adalah lompatan peradaban kita, peradaban yang jauh melompat ke belakang.

Mendapat kabar tentang apa yang terjadi di lapangan, serta melihat realita, saya mencabut omongan saya yang pernah saya tulis, bahwa masyarakat kita belum cerdas. Saya cabut itu, saya mulai menggantinya dengan istilah masyarakat kita masih bodoh dan primitif atau terbelakang.

Kebodohan dan keterbelakangan yang menunjukan di mana sebenarnya peradaban kita sebagai sebuah bangsa. Sudah terlalu banyak hal itu ditunjukan masyarakat kita. Bahkan masyarakat perkotaan yang katanya dekat dengan modernitas, sebagai tanda kemajuan.

Beberapa fenomena membuat saya menyimpulkan hal tersebut. Semua pasti ingat bagaimana resistensi masyarakat ketika pada informasi wabah ini. Cukup banyak masyarakat bahkan tokoh agama yang bersembunyi di balik jubah keagamaan, menolak setiap anjuran dan imbauan para ahli.

Alih-alih menaati, sebagian mereka malah membawa dalil yang jelas tidak ada hubungannya. Sebagian membawa fenomena wabah ini ke ranah mistis di tengah kemajuan ilmu pengetahuan. Saya sedang tidak memisahkan spiritualitas dan ilmu pengetahuan. Tapi bukankah menghubungkan penyakit dengan kutukan, adalah tradisi berfikir masyarakat pra sejarah?

Manusia-manusia yang hidup pada zaman itu menganggap penyakit sebagai kutukan dewa, penderitanya harus diasingkan. Tidak berbeda jauh dengan apa yang kita lihat hari-hari ini. Lalu mungkin akan ada yang membantah, karena enggan dikatakan primitif, dengan mengatakan penyakit itu datang sebagai ujian Tuhan kepada umat manusia!

Saya akan membenarkan itu, tapi ujian dan azab adalah domain Ketuhanan. Kita tidak pernah tahu, apakah yang menghampiri kita adalah sebuah azab, cobaan, atau nikmat. Tapi kita diberi tahu oleh Tuhan melalui banyak tanda yang harus dibaca melalui akal dan pengetahuan. Itulah yang dinamakan ikhtiar.

Saya selalu berfikir, jika Ibnu Sina masih hidup pada zaman ini, mungkin dia akan menangis melihat peradaban Indonesia yang katanya mayoritas penduduknya muslim. Kita kenal Ibnu Sina sebagai tokoh muslim yang mendunia berkat karya kedokterannya, bahkan salah satu karyanya menjadi rujukan utama ilmu kedokteran modern.

Dia bisa menghasilkan itu berkat kemampuannya mengoptimalkan anugrah Tuhan bernama akal. Namun ini tidak terjadi pada tokoh-tokoh muslim saat ini. Para tokoh yang selalu mengenakan jubah di setiap kesempatan. Saya melihat mereka lebih memilih jalan pintas dengan mengambil kesimpulan dari penafsiran yang mungkin tidak tepat atas ayat-ayat Tuhan.

Lalu hal yang lebih menyedihkan datang ketika masyarakat umum mempercayai apa yang mereka bicarakan. Lagi-lagi karena kemalasan masyarakat menggunakan akal sebagai anugrah Tuhan. Mereka menelan mentah-mentah hingga menganggap penyakit baru sebagai sebuah azab atau kutukan. Apa yang terjadi selanjutnya?

Banyak tenaga medis yang tidak bisa pulang, banyak jenazah yang tidak bisa langsung dikebumikan. Bahkan terakhir saya dengar seorang perawat yang meninggal karena Covid-19, jenazahnya ditolak di tiga pemakaman berbeda. Karena warga takut dengan penyebaran ‘kutukan’ ini.

Tentunya ini lebih dikarenakan masyarakat yang tidak terpapar dengan baik pengetahuan mengenai hal ini, dan lebih memilih jalan pintas ketimbang menggunakan akal mereka.

Hari-hari ini, saya merasa kita berada di peradaban pra sejarah itu. Ketika pengetahuan tidak berjalan sebagaimana mestinya, ketika akal tidak digunakan sebagaimana seharusnya, sekalipun teknologi sudah sangat jauh melompat di depan kita.

Jadi, wabah sebenarnya bukanlah Covid-19. Tapi kebodohan dan keterbelakangan yang terus kita pelihara.

Imam Maula Fikri

Tinggalkan Balasan