Corona, Mahkota yang Hilang Wibawa

Tapi jika pun covid 19 ini memang dibuat untuk itu, ya pastinya bukan untuk politik Nasional. Artinya, jika asumsi dibuat itu benar, para pembuatnya tidak membuat Covid19 untuk mempengaruhi elektabilitas aktor politik nasional.

Covid 19 sepertinya menjadi hal paling mendunia di tahun 2020 ini. Muncul sebagai sebuah penyakit yang ‘mematikan’ disertai banyak spekulasi tentangnya. Tapi sepertinya, imagenya sebagai penyakit ‘mematikan’ tidak tampak di negeri kaya yang katanya kepingan surga yang jatuh ke bumi bernama Indonesia.

Dalam tulisan yang lalu, saya menyinggung Covid19 yang diakibatkan oleh virus Corona ini dianggap remeh di dalam negeri. Mulai dari anggapan Antek Dajjal, hingga akal-akalan komunis. Bahkan disangkut pautkan dengan kebangkitan PKI. Partai yang sudah puluhan tahun mati.

Sekarang, penyakit ini semakin dipolitisir lagi. Seperti biasa, begitulah kelakuan rakyat yang katanya sudah cerdas. Entah rakyat bergelar elit ataupun jelata. Survei elektabilitas mulai berseliweran di media arus utama dan media sosial. Bahkan dikaitkan dengan Pilpres 2024. Padahal pemenang Pilpres tahun lalu pun belum dinyatakan berhasil menghadapi Covid19.

Belum lagi kini para robot memainkan tanda pagar untuk menyerang atau menguatkan aktor politik mereka. Cek saja di media sosial, bagaimana tagar itu menjadi pemanis cuitan. Lucu memang, padahal belum ada satu pun pemimpin di negeri ini yang bisa dikatakan berhasil melewati masa pandemi ini.

Di tingkat global, Covid19 ini memang sempat dikaitkan dengan politik dunia, perang ekonomi. Tapi jika pun covid 19 ini memang dibuat untuk itu, ya pastinya bukan untuk politik Nasional. Artinya, jika asumsi dibuat itu benar, para pembuatnya tidak membuat Covid19 untuk mempengaruhi elektabilitas aktor politik nasional.

Tapi ya begitulah anehnya di negara surga bernama Indonesia. Kesehatan hanya jualan semata. Kita tahu langkah otoritas banyak dipertanyakan. Mulai dari antisipasi yang tidak serius, hingga kebijakan penanganan yang dianggap setengah hati.

Langkah yang banyak dipertanyakan itu, kemudian diperburuk dengan perilaku politik masyarakat kita. lalu dibumbui oleh para ‘cendekiawan’, agar semua lebih segar dan ramai untuk diperbincangkan. Pada akhirnya, rakyat hanya sebuah benda taruhan, diantara para spekulan politik, seperti politisi, pendukung politisi dan surveyor.

Narasi Covid19 sebagai penyakit yang ‘mematikan’ akhirnya seperti candaan. Corona, virus penyebab Cocid19, yang diambil dari kata Crown, dan berarti mahkota, hilang wibawanya. Ibarat dalam sebuah kerajaan, mahkota dikenakan oleh seorang Raja yang gagah, berani, dan mungkin bengis, kini lenyap seketika di negeri surga bernama Indonesia.

Seandainya Corona bisa diajak berbincang dan bercengkrama. Mungkin hanya satu kalimat ini yang cocok baginya. “Tuan, daripada tuan berlelah-lelah menyebar penyakit. Lebih baik tuan pergi dan jangan kembali. Karena disini, Tuan tak lebih dari sekedar penghibur yang tidak menghibur sama sekali,”

Imam Maula Fikri

Tinggalkan Balasan