Corona dan Kondisi Masyarakat Kita

Corona adalah bukti masyarakat kita tidak cerdas. Masih dapat digiring dengan berbagai isu. Kondisi yang sebenarnya lebih berbahaya dari Corona.

Awal tahun 2020 memang tidak biasa. Banyak kejadian yang membuat manusia harus lebih waspada, Corona salah satunya. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus Covid-19, yang sebelumnya disebut dengan virus nCov.

Penyakit ini pertama kali muncul di Wuhan, China. Merebak menjadi endemik, epidemik, hingga WHO menetapkannya menjadi wabah global. Sebenarnya merebaknya virus ini sudah dari akhir tahun 2019. Lalu berkat kecanggihan informasi telekomunikasi, kabar menyebar cepat. Terutama melalui media sosial.

Vidio-vidio orang tiba-tiba terjatuh di jalanan atau di tempat aktivitas menyebar dimana-mana. Lalu disusul kabar meninggalnya orang dengan gejala serupa, manusia pun panik. Meskipun gejala penyakit yang ditimbulkan hanya demam, flu, juga batuk. Beberapa diikuti sesak nafas, katanya.

Namun kondisi biasa itu, berubah menjadi tidak biasa karena dikabarkan ini virus baru, dan belum ada vaksinnya, ditambah korban yang terus berjatuhan, bahkan kehilangan nyawa. Penyebarannya cepat, kabar buruk pun cepat menyebar.

Saat itu juga warga Indonesia, termasuk netizennya, sudah mulai banyak membicarakan Corona. Meskipun, baru kemarin pemerintah mengumumkan adanya pasien positif Corona. Tapi apa boleh buat, upaya pemerintah gagal mengantisipasi kepanikan, kekalutan, serta kekesalan warga negaranya.

Masker habis diburu, bahan pokok ludes sekejap. Padahal, tidak ada kondisi darurat yang mengharuskan warga melakukan itu. Setidaknya hal ini bisa dilihat dari statistik wabah Corona. Dari 90 ribu lebih orang yang terkena, nyatanya persentase kesembuhannya sangat besar. Berbanding terbalik dengan persentase kematiannya yang sungguh kecil, konon hanya tiga persen.

Kembali lagi pada kekalutan yang tidak terkendali, manusia jadi banyak yang bertindak di luar akal sehat. Ada yang memborong masker, padahal guna masker bukan untuk orang sehat yang tidak beraktifitas di pelayanan kesehatan. Efeknya harga masker menjadi tidak masuk akal, seharga smartphone buatan China.

Lebih tidak masuk akal lagi, beberapa himbauan yang dikeluarkan instansi pendidikan. Bahkan instansi itu merupakan instansi pendidikan dengan kekhususan di bidang kesehatan.

Mulai dari mencontohkan menggunakan masker di lingkungan sekolah, menghimbau untuk tidak bersentuhan langsung antar warga sekolah. Dengan jelas disebutkan untuk tidak ada jabat tangan (bersalaman) antara guru dan siswa.

Kemudian ada sekolah yang meminta para wali kelas menghimbau para wali murid untuk meminta anak-anaknya cek suhu, padahal tidak ada demam, sekaligus meminta masker di UKS. Lebih parah lagi, saya dapat kabar, sebuah sekolah tinggi kesehatan menghimbau mahasiswanya untuk menggunakan masker dua lapis. Kegilaan ini tidak termasuk dengan kabar korban pasien Corona yang stress akibat pemberitaan media.

Melihat ini semua, saya hanya memiliki satu kesimpulan, salah jika ada yang bilang masyarakat kita sudah pintar dan cerdas. Masyarakat kita hanya pintar mengikuti tren, tapi belum cerdas dan belum pintar dalam arti yang sesungguhnya. Corona adalah bukti masyarakat kita tidak cerdas. Masih dapat digiring dengan berbagai isu. Kondisi yang sebenarnya lebih berbahaya dari Corona.

Tanpa menghilangkan rasa iba, saya tetap berbela sungkawa pada pasien Corona. Semoga Tuhan memberikan kesembuhan dan pasien kembali pulih seperti sedia kala. Bagi yang masih sehat, semoga Tuhan tetap menjaga kita.

Imam Maula Fikri

Tinggalkan Balasan