Catatan Kita

Catatan Perjalanan (14)

Untuk kembali mengingat rasa (syukur) itu, berjalan adalah salah satu caranya. Kita lupa bersyukur karena hanya terus bergumul dengan aktivitas yang itu-itu juga. Tidak mau berjalan mencari aktifitas lain. Paling tidak pikiran kita berjalan mencari rasa itu.

Pahlawan Tanpa Tanda-Tanda

Tapi bagaimana pun, guru akan tetap menjadi guru. Dihargai atau tidak, dianggap pahlawan atau tidak, setidaknya mereka bisa menghasilkan wakil rakyat dan pejabat yang rajin bohongi rakyat!

Jamuan Meja Koalisi Oligarki

Mereka mungkin sempat membenci, tapi pada kesempatan lain mereka harus satukan hati, mungkin. Duduk satu meja dalam jamuan koalisi. Dan membiarkan penderitaan dan perjuangan masa lalu seperti hilang tak berarti.

Soal Tipu Menipu

Untuk itu semua, kita tidak pernah benar-benar tahu, siapa sebenarnya yang tahu tentang kasus-kasus itu. Karena bisa saja mereka yang tahu, justru malah memanipulasi masyarakat luas dengan pengetahuan mereka.

Sejarah Kelam yang Terus Diulang!

Negara ini seolah tidak pernah belajar pada sejarahnya. Beberapa tragedi di masa lalu tak pernah jelas kelanjutan kasusnya. Kini, di era pasca reformasi, mungkin negara akan menambah beban bagi warganya, berupa peninggalan sejarah kelam yang mungkin tidak akan terungkap juga siapa yang ada di balik semua ini.

Eksploitasi Rasa Takut

Anak yang diancam tidak diberikan jajan, siswa yang diancam tidak mendapatkan nilai, hingga pegawai yang diancam pemotongan gaji. Atau umat beragama yang ditakuti tidak mendapat pahala. Hingga akhirnya sistem reward and punishment tidak berlaku dengan seimbang.

Meredalah Papua!

Mungkin kita tidak pernah tahu, seberapa banyak kontribusi tanah Papua untuk negeri ini. Tapi sudah pasti, kekayaan tanah Papua banyak yang keluar dari tempatnya.

Bisnis Pendidikan

Mungkin ini salah satu tanda, ilmu sudah kehilangan esensinya. Semakin maju zaman, semakin tua bumi, keberkahan ilmu semakin hilang. Begitu kata para pemuka agama. Hingga pada saatnya kita tinggal menunggu waktu, bumi hancur karena ilmu yang diuangkan.

Kemana Sila Kelima?

Sudah menjadi tugas negara untuk memenuhi itu semua. Sila kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Rakyat bekerja untuk negara, negara ada karena adanya rakyat, untuk itu sudah saatnya negara kembali hadir untuk rakyat.