Catatan Perbedaan : Tentang Perselisihan Yang Diciptakan

Kekuasaan yang bahkan memijakan kaki di atas kepala Kebangsaan, Nasionalisme, dan Keagamaan. Mereka menciptakan sekat-sekat sosial agar mudah mendeferensiasi kelompok mana yang dapat dihitung suaranya

Hari ini, 25 Januari 2020 bertepatan dengan hari imlek atau Tahun Baru China 2571. Baru tahun ini pula, saya mendapatkan makanan ‘khas imlek’, Dodol China, dari seseorang yang sepertinya memiliki darah tionghoa.

Pada saat yang sama, saya pun melihat seorang wanita paruh baya etnis tionghoa memberikan makanan serupa pada lelaki penjaga toko dekat rumahnya. Lelaki yang disapa “Uda”, dugaan saya penjaga toko itu asli Sumatera Barat.

Di waktu yang tak berjauhan, kemudian saya menonton wawancara seorang youtuber dengan seorang backpacker beretnis Tionghoa. Backpacker tersebut pernah menyaksikan keluarga dan handai taulannya menjadi korban rasisme tahun 98, yang beberapa kasusnya tidak pernah terungkap, di usianya yang masih 7 tahun.

Kemudian dia menceritakan dendam masa lalunya yang berubah drastis setelah berkeliling Indonesia dari Aceh sampai Papua. Ia mendapati Indonesia yang sesungguhnya, keramahannya serta kekayaan alam juga budayanya.

Dari serangkaian kejadian itu, kemudian saya menyimpulkan bahwa semua manusia, paling tidak di Nusantara ini, memiliki hubungan yang baik-baik saja. Persaudaraan di tingkat akar rumput, antar individu masyarakat, sebenarnya baik-baik saja.

Hanya saja apa yang disaksikan banyak orang melalui media arus utama dan media sosial, adalah rekayasa sosial. Seolah sedang ada keterguncangan kerukunan antar masyarakat. Perpecahan sosial yang kita saksikan di media, ternyata hanya rekayasa mereka yang ingin berkuasa. Atas nama apa pun itu.

Kekuasaan yang bahkan memijakan kaki di atas kepala Kebangsaan, Nasionalisme, dan Keagamaan. Mereka menciptakan sekat-sekat sosial agar mudah mendeferensiasi kelompok mana yang dapat dihitung suaranya. Lalu dalil-dalil, nasionalisme dan kesucian agama, direkayasa supaya masyarakat makin percaya.

Memekikan satu aspek dengan mengenyampingkan aspek lain. Kelompok-kelompok dibentuk, superioritas antar kelompok ditinggikan, hingga semua menjadi tercerai berai. Ini sengaja diciptakan, untuk memecah kekuatan terakhir kita, persaudaraan di akar rumput. Persatuan Indonesia!

Selamat tahun baru Imlek 2571, Go Xi Fat Chai!

Imam Maula Fikri

Tinggalkan Balasan