Bisnis Pendidikan

Mungkin ini salah satu tanda, ilmu sudah kehilangan esensinya. Semakin maju zaman, semakin tua bumi, keberkahan ilmu semakin hilang. Begitu kata para pemuka agama. Hingga pada saatnya kita tinggal menunggu waktu, bumi hancur karena ilmu yang diuangkan.

Apakah diantara kita pernah mendengar istilah, salah satu bisnis yang tak akan pernah mati adalah bisnis pendidikan. Karena selama manusia hidup, manusia butuh pendidikan.

Kalimat itu pernah saya dengar kurang lebih 10 tahun lalu. Kini, kita bisa melihat realita itu. Pendidikan sebagai lahan bisnis yang bagus. Siapa pun, selama masih memiliki modal, bisa membuat bisnis di bidang pendidikan.

Dua hal yang pada dasarnya sudah berbeda. Pendidikan membicarakan manusia dan kemanusiaan. Mendidik manusia berarti invetasi besar di masa depan. Membangun pendidikan berarti membangun peradaban.

Sementara apa yang dicari dari sebuah bisnis selain menguntungkan atau tidak menguntungkan. Mungkin akan ada yang mengelak, bisnis tidak selalu soal untung rugi. Namun pasti tidak akan ada yang menolak bahwa orang berbisnis karena tidak mau rugi.

Prinsip sederhana soal bisnis yang pernah saya tahu, dengan modal sesedikit mungkin dapat meraup untung sebanyak-banyaknya. Itu lah bisnis, itulah industri. Tanpa adanya keuntungan, mustahil bisnis atau industri bisa bertahan hidup.

Lalu bagaimana jika kemudian kemanusiaan dan bisnis atau industri saling bersinggungan. Membisniskan kemanusiaan. Di sela-sela mencari keuntungan, apakah akan masih relevan membicarakan kemanusiaan?

Mungkin hampir tidak ada pebisnis yang melirik sisi ini. Sisi kemanusiaan, karena mereka mendirikan bisnis bukan untuk manusia, tapi untuk keuntungan. Di hadapan keuntungan, manusia sebaik apa pun bisa berubah menjadi pemangsa ulung seperti raja hutan.

Semakin hari, kebutuhan pendidikan pun semakin dirasa perlu. Satu dan lainnya saling siku, agar mendapatkan pelanggan. Jika tidak, habislah modal, hilang lah keuntungan. Apa pun cara dilakukan asal bisnis tetap bertahan.

Sementara soal manusianya? Ah biarlah. Semua bisa diatur. Saya ingat dengan materi tentang penelitian ilmiah. Disebutkan bahwa peneliti boleh salah tapi tidak boleh bohong. Ini berarti membuat laporan yang salah namun dibenarkan, sah-sah saja selama tidak bohong.

Akhirnya pembangunan manusia pun seperti omong kosong. Di dalam lingkaran pendidikan berbasis keuntungan, akan sulit menemukan mana baik mana buruk. Mana benar mana salah. Semua masih bisa dipertimbangkan berdasar untung dan rugi.

Mungkin ini salah satu tanda, ilmu sudah kehilangan esensinya. Semakin maju zaman, semakin tua bumi, keberkahan ilmu semakin hilang. Begitu kata para pemuka agama. Hingga pada saatnya kita tinggal menunggu waktu, bumi hancur karena ilmu yang diuangkan.

Imam Maula Fikri

Please follow and like us:
0

Tinggalkan Balasan