Bersusah Payah Bersama, Berbahagia Dengan Lainnya

Selama kita masih memahami kita sebagai bentuk fisik, kita tak akan selalu merasa bersusah payah bersama, berbahagia dengan lainnya.

Susah dengan kita, senang dengan lainnya. Bersedih bersama, tertawa dengan orang yang berbeda. Saya rasa ungkapan itu sudah banyak digunakan manusia di dunia ini. Ungkapan yang manusiawi untuk menggambarkan kecendrungan manusia saat ini.

Pernah saya tulis tentang pseudorealita, mungkin ini salah satunya. Tidak usah terburu-buru merasa dibutuhkan, atau merasa punya teman, jika ada seorang yang mengaku membutuhkan teman. Toh nyatanya, kebutuhan manusia bermacam-macam. Hidup ini dinamis!

Tempat kan saja semua pada tempatnya. Ketika anda didekati seseorang, ya anggap saja mereka sedang butuh teman, dan hanya anda yang bisa menemani. Ketika semua kembali normal, ya anda akan dianggap seperti biasa lagi.

Manusiawi, manusia membutuhkan kesenangan, manusia membutuhkan pemuas. Saya, anda, mereka, kita semua, pasti pernah melakukannya, disadari atau tidak. Tidak ada yang benar-benar sempurna, tidak ada yang benar-benar setia. Selama masih berupa hubungan sesama manusia.

Karena ada hubungan yang lebih tinggi dari hubungan sesama manusia. Tapi tidak semua bisa menangkap dan menggapai hal tersebut. Supracinta, supraspirit, rupanya metafisik. Selama kita masih memahami kita sebagai bentuk fisik, kita tak akan selalu merasa bersusah payah bersama, berbahagia dengan lainnya.

Imam Maula Fikri

Tinggalkan Balasan