Berhenti Menggunakan Takaran Orang Lain!

Tuhan menciptakan manusia sangat unik. Itu yang saya pelajari. Bahkan keunikan manusia itu membuat satu sama lain tidak pernah sama

Sering saya temukan, mungkin saya pribadi pun sama, beberapa teman yang suka melakukan perbandingan. Membandingkan dirinya dengan lingkungan sekitar.

Dari yang paling dekat hingga yang kita tidak kenal siapa mereka sebenarnya. Membandingkan kehidupan, membandingkan besaran gaji, membandingkan apa yang dimiliki, dan lain sebagainya.

Hal ini membawa saya pada satu kesimpulan, perilaku seperti inilah yang akhirnya membuat manusia tidak pernah merasa puas. Bahkan rela melacurkan dirinya sebagai manusia. Dengan mengambil apa yang bukan miliknya.

Sadar atau tidak, saya rasa manusia punya takarannya masing-masing. Tidak bisa kemudian satu manusia menakar dirinya dengan takaran orang lain. Meskipun kita sama-sama manusia.

Tuhan menciptakan manusia sangat unik. Itu yang saya pelajari. Bahkan keunikan manusia itu membuat satu sama lain tidak pernah sama. Sekalipun ia dilahirkan sebagai seorang yang memiliki kembaran.

Belum lama ini, saya berbincang di kedai kopi bersama seorang sahabat. Banyak hal diperbincangkan, termasuk ia yang mulai jenuh dengan pekerjaannya. Alasannya klise, gaji dan jenjang karir.

Lalu ia membandingkan dirinya dengan beberapa orang rekannya yang lain. Akhirnya saya berkesimpulan ia tidak puas dengan apa yang diraihnya. Bukan karena apa yang diraihnya sedikit, tapi karena ia melihat apa yang diraih orang lain.

Begitulah manusia. Sering menggunakan ukuran yang salah untuk mengukur dirinya. Sehingga banyak orang yang tersesat dari jalannya, dan ia lupa siapa dirinya.

Kita tidak bisa menggunakan takaran orang lain untuk menjadi diri kita. Kita ini bukan persamaan matematis yang butuh perbandingan. Kita ini makhluk hidup yang memiliki jiwa dan rasa.

Jika kita terus memperbandingkan, dan menggunakan takaran orang, coba tanya diri kita, sudahkah kita menjadi manusia?

Imam Maula Fikri

Tinggalkan Balasan