Baper yang Mengacaukan

Bangsa kita tidak lagi sehat. Karena semua tidak tahan terhadap kritik dan nasihat. Padahal keduanya adalah kontrol atas sistem yang berjalan.

Sudah beberapa tahun terakhir, tingkat kebaperan pejabat kita meningkat. Baik itu eksekutif ataupun legislatif, mungkin juga yudikatifnya. Akhirnya penyakit baper ini menular ke masyarakat di tingkat akar rumput.

Banyak kritik terhadap kebijakan yang ditanggapi berlebihan. Salah satunya ialah dengan menyerang personal pengkritik. Para pengkritik dikuliti habis kehidupan personalnya. Karena mereka, yang menyerang, menganggap mengkritik kebijakan sama dengan mengkritik personal. Akhirnya orang pun apatis terhadap apa yang terjadi.

Buruknya, hal ini pun terduplikasi pada tatanan yang ada di bawah. Ketika satu pimpinan instansi dikoreksi oleh anak buahnya sendiri, atau pimpinan masyarakat di unit terkecil dikoreksi warganya sendiri. Mungkin tidak banyak, tapi saya yakin tidak sedikit juga.

Saya selalu percaya, pemimpin ikut menentukan perilaku yang dipimpinnya. Jika sehari-hari kita disuguhkan hal seperti itu terus-menerus, baik di televisi ataupun media sosial, itu akan menjadi hal yang mudah ditiru. Tidak heran kemudian banyak permusuhan di tingkat bawah.

Bangsa kita tidak lagi ramah, pada saudara sendiri. Tapi sangat terbuka bagi bangsa luar. Bangsa kita sedang tidak baik-baik saja. Beberapa kali saya tulis itu. Dialog tidak lagi dikedepankan.

Pesta pemilihan pemimpin terus dilakukan, tapi kualitas kepemimpinan terus dipertanyakan. Baik itu eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Karena masyarakat terus dipaksakan memilih sajian yang paling sedikit buruknya diantara semua sajian yang buruk.

Bangsa kita tidak lagi sehat. Karena semua tidak tahan terhadap kritik dan nasihat. Padahal keduanya adalah kontrol atas sistem yang berjalan. Ibarat obat atau suplemen, ia tidak semanis gula, tapi dia baik saat dibutuhkan. Adakalanya kita bisa menikmati gula, pun ada kalanya kita harus menikmati obat.

Jika seperti ini terus, akhirnya kekacauan akan terjadi. Karena sistem tidak lagi terkendali. Semua hanya berjalan dalam kebenaran versinya masing-masing. Padahal persoalan bangsa lebih kompleks dari pada persepsi individu atau kelompok. Semoga bangsa ini kembali sehat wal afiat.

Imam Maula Fikri

Please follow and like us:
0

Tinggalkan Balasan