Banjir dan Kata yang Salah

Kenapa manusia tidak berani mengatakan, kondisi sungai yang menyempit tidak mampu menampung air sehingga terjadi banjir

Februari, Jakarta dan sekitarnya kembali mengalami hujan di malam hari. Hujannya sangat lebat, bahkan dikatakan ekstrim. Lalu seperti biasa, banjir kembali terjadi. Setidaknya ini kali ketiga selama awal tahun 2020.

Sebenarnya tidak hanya Jakarta yang banjir, Bekasi, Tangerang, dan beberapa daerah pun banjir. Saya baca diantaranya Subang, Jawa Barat. Saya menegaskan ini agar banjir bebas dari politisir. Banjir itu tidak diakibatkan secara langsung oleh kepala daerah. Hanya saja, kebijakan kerap acuh terhadap aspek lingkungan.

Tapi saya tidak ingin menulis tentang itu. Justru yang saya perhatikan adalah diksi selama terjadi banjir. Setiap ada banjir selalu saja kita dengar, banjir disebabkan oleh meluapnya air di sungai A, misalkan. Atau, Jalan lumpuh total akibat banjir yang disebabkan oleh luapan sungai A. Itu beberapa contohnya.

Diksi-diksi itu seperti mengajarkan kita bahwa banjir terjadi karena ulah air, aktivitas manusia terganggu karena air. Padahal jelas-jelas yang berulah adalah manusianya. Air tidak pernah menyalahi kodratnya sebagai bagian dari alam semesta, sebagai ciptaan Tuhan.

Ia berjalan dari tempat tinggi ke tempat rendah, meresap ke dalam tanah, menginap di akar pohon, terus berjalan ke tempat yang lebih rendah hingga mencapai akhirnya di laut. Setelah itu, mereka menguap, menggumpal menjadi awan, terjadi hujan, lalu turun lagi ke bumi, dan mengalir kembali sebagai kebutuhan manusia. Apakah kita pernah menemukan air tiba-tiba menggenang dan menghalangi manusia?

Jika tidak karena tempatnya menginap, tempat ia meresap, tempat ia mengalir, sudah semakin menyempit bahkan hilang. Lalu kita mengatakan banjir disebabkan meluapnya air?

Kenapa manusia tidak berani mengatakan, kondisi sungai yang menyempit tidak mampu menampung air sehingga terjadi banjir. Atau mengatakan, kondisi tanah yang berubah jadi beton dan tidak ada pepohonan sebagai penyerap air, sehingga air menggenang dan membanjiri rumah warga. Kenapa tidak demikian? Bukankah air hanya menjalankan siklus hidupnya?

Manusia tidak cukup arif untuk mengakui kelemahan dirinya. Sehingga alam dieksploitasi, bahkan dengan pemilihan kata, diksi. Mungkin manusia sudah lupa bahwa lebih dari 60 persen dirinya adalah air. Tapi manusia memilih untuk tidak bersahabat dengan air melalui diksi-diksi yang cukup parah.

Bahkan jika ditarik persoalan yng lebih besar, bumi tempat tinggal kita rusak karena ulah manusia juga. Tapi yang paling parah dari hal itu adalah, kelakuan politisi yang berebut kuasa dan terus memperkeruh suasana, bahkan lebih keruh dari air banjir yang mungkin mengandung sperma.

Imam Maula Fikri

Tinggalkan Balasan