Alerta! Alerta! Indonesia!

Untuk itu, setiap orang berperan dalam situasi ini. Sudah bukan saatnya mencari perbedaan pandangan. Bukan saatnya melihat perbedaan politik. Bukan saatnya terus menajamkan intrik.

Pandemi global Covid19 belum juga dinyatakan berakhir. Di Indonesia, sejak diumumkan pertama kali pada 2 maret lalu hingga kemarin, sudah ada 300 lebih pasien dinyatakan positif Covid19. Ada yang sembuh, ada yang meninggal. Meski angka yang meninggal lebih banyak, sangat disayangkan.

Tahun ini menjadi tahun yang berat bagi warga Indonesia khususnya, dan bagi warga dunia pada umumnya. Saya mengutip ucapan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, yang mengatakan “kita sedang berperang,” ketika memberikan pernyataan media terkait kondisi negaranya ditengah wabah covid19.

Sepertinya, kata ‘perang’ memang cocok digunakan untuk melawan pandemi ini. Hal ini merajuk kepada angka kejadian yang terus bertambah dengan cepat dalam jumlah yang besar. Kemudian, angka kematian yang terus bertambah setiap harinya.

Dalam worldmeters.com tertulis, saat ini jumlah kematian di seluruh dunia pada kasus ini sudah mencapai 11 ribu lebih. Dengan jumlah kasus yang dinyatakan positif sudah mencapai 200 ribu lebih.

Jika ini adalah sebuah peperangan, maka siapa yang paling berperan? Tenaga medis! Ya, mereka para pelaksana di lapangan. Dalam sebuah peperangan, tenaga medis merupakan tim yang tidak boleh dicederai. Mereka dilindungi dalam menjalankan tugasnya dalam merawat prajurit yang sakit atau tertembak.

Tapi itu dalam peperangan dengan senjata. Pertempuran fisik. Adapun saat ini, peperangan itu terjadi tanpa senjata, tanpa kontak fisik antara dua pihak yang berperang. Karena kita tidak pernah tahu apakah kita sudah berinteraksi dengan mereka yang positif atau tidak.

Dalam kondisi saat ini, tenaga medis yang menjadi tim yang dilindungi dalam sebuah pertempuran, harus berubah peran menjadi prajurit perang. Mereka berperang dengan tenaga dan keilmuan mereka untuk merawat mereka yang sudah dinyatakan positif.

Memberikan terapi, memantau perkembangan kondisi, hingga bersiap diri jika kondisi pasien semakin memburuk. Itulah tugas mereka saat ini. Di tengah usaha mereka memberikan terapi dan perawatan, akan selalu ada kemungkinan pasien sembuh atau pasien meninggal dunia. Bukankah kemungkinan ini pun terjadi dalam peperangan? Selamat atau meninggal dunia.

Sayangnya, keilmuan dan keterampilan medis tidak bisa dimiliki sembarang orang. Keahlian itu harus mereka dapatkan melalui pendidikan yang panjang. Jadi dalam kondisi darurat yang tidak dipersiapkan, siapa yang bisa menjadi pasukan cadangan jika sebagian besar tenaga medis kelelahan sementara kasus terus bertambah?

Untuk itu, setiap orang berperan dalam situasi ini. Sudah bukan saatnya mencari perbedaan pandangan. Bukan saatnya melihat perbedaan politik. Bukan saatnya terus menajamkan intrik. Ikuti otoritas kesehatan, otoritas keagaman, dan otoritas lain yang faham mengenai hal ini. Jangan jadi pembangkang yang seolah-olah Tuhan menjamin keselamatan kita tanpa berusaha!

Imam Maula Fikri

Tinggalkan Balasan