Alay, Eksis, Lalu Dewasa?

Pagi ini saya akan lanjut tulisan saya soal keremajaan. Kebetulan permintaan saya menulis keremajaan, datang tak lama setelah ada teman diskusi mengajak berdiskusi tema serupa. Untuk itu saya masih memiliki beberapa ide segar tentang itu.

Setelah pada ulasan lalu saya menulis soal fenomena alay, maka sekarang saya coba lanjutkan. Menurut saya, alay itu salah satu upaya mencari jati diri. Tugas utama dari seorang remaja, sesuai masa perkembangannya. Pada dasarnya remaja selalu ingin diakui, ada istilahnya egosentris. Keinginan untuk diakui itu butuh lingkungan sekitar. Tidak mungkin jika ia mau diakui sementara tidak ada sesosok pun pengakunya.

Maka pengakuan dari para pengaku yang berada di lingkungan sekitar remaja adalah kebutuhan. Ketika dia diakui, maka dia merasa dirinya ada dan diperhitungkan, diperhatikan dan lain sebagainya. Berbeda ketika ia tidak mendapatkan itu, maka ia perlu mencari pengakuan. Mencari pengakuan berarti menggali keberadaan dirinya. Mencari keberadaan berarti berupaya bereksistensi. Untuk itulah remaja doyan eksis.

Ketika zaman gandrung dengan ajaran narsisme, maka ada anekdot tidak apa-apa narsis yang penting eksis. Hanya itu yang dibutuhkan, eksistensi. Maka mungkin ketika narsisme itu berlebihan, bisa jadi lah muncul ke alayan, yang penting kan diakui. Karena mungkin dengan itu ia merasa ada.

Sederhananya, jika remaja tidak mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitarnya yang paling dekat, maka ia akan keluar mencari pengakuan. Bergaul adalah salah satunya, bergaul dengan satu kelompok berarti ia butuh pengakuan. Agar dia eksis, ada, dalam kelompok itu. Karenanya remaja akan ikut lingkungan dimana ia hidup. Itulah alasan saya mengatakan, kenapa remaja alay tidak usah diusik meski mengganggu pandangan kita. Pada masanya kealayan itu akan hilang ketika mereka menemukan eksistensinya dimana.

Remaja yang berboncengan tiga akan sadar itu salah ketika dirinya merasa sudah tak pantas lagi berlaku seperti itu. Remaja yang galau melulu dengan mengutip kutipan-kutipan pujangga akan sadar ketika ia sadar bahwa dia bukan melankolis. Remaja yang gemar pamer keilmuannya akan sadar ketika dia sadar ada di lingkungan apa dan harus berbuat apa. Itu semua contoh alay yang berubah menemukan eksistensi dan menjadi dewasa.

Tapi saya kembali lagi pada hipotesa awal, ada cabe-cabean atau terong-terongan yang gagal melewati fase tumbuh kembang dengan baik. Sehingga ketika ia berusia dewasa, sikapnya masih seperti remaja bahkan kekanak-kanakan. Karena apa? Nanti saya coba cari lagi jawabannya. Salam fikir!

Imam Maula Fikri

Please follow and like us:
0

3 thoughts on “Alay, Eksis, Lalu Dewasa?

Tinggalkan Balasan