Aku Takut Melihat Kota

Jangan kau coba beranikan diri memasuki kawasan ini. Sudah barang tentu tidak akan bersahabat denganmu, dengan kehidupanmu. Dengan nilai hidupmu.

Untuk kawanku di desa, yang sudah lama tak ku kirimi surat. Maaf, kali ini aku baru sempat mengirimimu surat ini. Mungkin aku terlalu sibuk berkutat dengan ketakutan.

Ketakutan yang aku lihat saat menatap ramainya kota. Gedung yang menjulang tinggi. Jalanan panjang beraspal dan bercabang-cabang.

Aku sungguh takut melihatnya. Kabut asap tebal menutupi langit biru yang cerah. Serta menyesaki udara perkotaan. Aku takut melihatnya.

Tersesat di dalamnya, serasa lebih baik tersesat di dalam hutan. Ya, tersesat di hutan lebih baik ketimbang tersesat di perkotaan. Begitulah menurutku, kawan!

Jangan kau coba beranikan diri memasuki kawasan ini. Sudah barang tentu tidak akan bersahabat denganmu, dengan kehidupanmu. Dengan nilai hidupmu.

Cukup aku saja yang merasakan. Kau jangan ikut-ikutan termakan hasutan, bahwa hidup di kota lebih menyenangkan. Banyak kesenangan dan kemewahan.

Padahal di balik itu semua banyak pula kesengsaraan. Jangan kau datang ke kota, kawan! Cukup desa menjadi rumah masa depanmu, dan jaga ia dari keserakahan.

Imam Maula Fikri

Tinggalkan Balasan