22 Tahun Reformasi, Antara #ReformasiDikorupsi dan Rindu Soeharto

Kita mau berbicara tentang siapa pun ex reformis yang kini menjadi politisi, pasti di belakang mereka ada pejabat Orde Baru. Bahkan mereka, para reformis itu, mungkin berhasil ‘mendamaikan’ para jenderal yang berseteru kala itu.

Mei 1998, sejarah nasional mencatat mundurnya Presiden kedua, yang menjabat selama kurang lebih 35 tahun. Soeharto, seorang mantan Jendral TNI, yang menyerahkan tampuk kekuasaannya setelah mahasiswa dan rakyat menduduki gedung parlemen. Orde Baru pun runtuh, digantikan Reformasi.

Kini, 22 tahun dari masa itu, apakah tujuan reformasi sudah tercapai?

Mungkin tujuan penggeraknya iya, tapi entah tujuan dari reformasi itu sendiri. Mereka yang menjadi penggerak dan martir reformasi sudah nyaman duduk di kursi Menteri, Pejabat setingkat Mentri, ataupun sebagai Legislator.

Dua puluh dua tahun silam, mereka gagah dengan bendera masing-masing. Fotonya masih tersebar saat ini. Ketika mereka berorasi atau berhadapan dengan aparat. Banyak yang memujinya. Tapi sepertinya foto-foto itu tersebar sebagai pemikat saja. Seolah ingin bilang “Saya pernah berhadapan dengan penguasa Tangan Besi,”

Tapi di balik kekuasaan itu sendiri, mereka melahirkan #ReformasiDikorupsi. Satu gerakan kekecewaan dari para mahasiswa milenial atas pemerintahan saat ini. Meskipun, aksi para Mahasiswa milenial itu dianggap culun oleh para seniornya yang sudah jadi macan ompong di Senayan dan Istana Merdeka.

Tentunya, pergerakan mahasiswa milenial dianggap ditunggangi. Sebenarnya mungkin tak beda jauh dengan pergerakan para reformis, ex aktifis reformasi, yang kini duduk di tampuk kekuasaan.

Ini bisa menunjukan, bahwa memang reformasi tidak pernah mencapai tujuannya. Hanya bajunya saja yang berganti. Dari Orba ke Orde Reformasi. Orang-orang di dalamnya masih sama saja. Orang-orang dari masa lalu.

Kita mau berbicara tentang siapa pun ex reformis yang kini menjadi politisi, pasti di belakang mereka ada pejabat Orde Baru. Bahkan mereka, para reformis itu, mungkin berhasil ‘mendamaikan’ para jenderal yang berseteru kala itu.

Reformasi? ah lupakan saja.
Ini eranya #ReformasiDikorupsi
Entah orde apa yang akan muncul setelah ini.

Sebagian ada yang percaya, bau-bau Orba sudah tercium lagi. Mereka yang mengatakan itu adalah mereka yang konsisten menjadi oposisi penguasa, siapa pun pemegang kekuasaannya.

Tapi sayang, bukan politik namanya jika tidak ada penunggangan. Ada segelintir oknum yang memakai jargon #ReformasiDikorupsi atau Orba jilid II, tapi merindukan sosok mendiang Soeharto. Presiden kedua yang notabene menjadi musuh politik para reformis.

Jadi sebenarnya, antara ex reformis dan kelompok oposan musiman penguasa, merindukan reformasi atau tidak?

Sebaiknya rakyat harus mulai tidak percaya pada siapa pun yang berbicara politik di negeri ini. Setidaknya, hingga 30 atau 50 tahun ke depan. Ketika generasi lama sudah masuk ke alam barzakh, dan orang-orang baru membawa gaya politiknya sendiri.

Imam Maula Fikri

Tinggalkan Balasan